Senin, 15 Agustus 2011

Salah Kaprah Arti Idul Fitri dan Minal Aidin Wal Faizin

(email from a friend)

Selama ini banyak di antara kita yang salah kaprah dalam memaknai frase ‘Idul Fitri’. Kata ‘Ied’diartikan ‘kembali’ dan kata kata ‘fitri’ karena dianggap berasal dari kata ‘FITHROH’ (dengan ha marbuthoh) yang artinya ‘asal’ atau ‘suci’ atau ‘bersih’. Jadi kata ‘Idul fitri’ diartikan ‘kembali ke asal kita yang bersih/suci’. Argumentasi fiqihnya, krna orang yang berpuasa oleh Allah dijanjikan akan diampuni seluruh dosa-dosanya, sehingga pada tanggal 1 syawal tsb dia ibarat bayi yang suci dari noda dan dosa.

Pemahaman yang semacam itu secara etimologi tidak tepat. Kata ‘fitri’ pada ‘Iedul Fitri’ bukan berasal dari ‘FITHROH’ tetapi dari kata ‘FITHR’ (fathoro-yafthuru-ifthor) yang artinya ‘berbuka’. Jadi frasa ‘Idul fitri’ artinya ‘kembali berbuka’. Maksudnya, kembali seorang yang tadinya berpuasa diperbolehkan melakukan makan-minum di pagi hari pada tanggal 1 Syawal tersebut atau tanda bhwa bln ramadhan tlh berakhir.

Karena salah satu sifat bahasa manasuka, kedua pemaknaan tersebut tentu saja sah dan boleh-boleh aja. Walaupun demikian, kalau direnungkan lebih dalam pemaknaan Idul Fitri versi pertama tersebut (kembali menjadi manusia yang suci) sesungguhnya sangat berat dan spekulatif. Betulkah puasa Ramadhan yang kita lakukan selama satu bulan tersebut diterima oleh Allah SWT, sehingga menggugurkan dosa2 kita dan mengantarkan kita menjadi manusia-manusia yang suci laksana seorang bayi? Padahal Rasulullah saw.menengarai melalui sabdanya, bahwa sungguh betapa banyak orang yang berpuasa –tetapi karena tidak dilakukan dengan keimanan dan perhitungan (ikhtisaban)—maka yang bakal dia peroleh hanyalah rasa lapar dan dahaga saja. Jadi persoalan diterima tidaknya amalan puasa ramadhan seorang hamba benar-benar hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Atas dasar karena puasa ramadhan seseorang belum tentu diterima oleh Allah inilah, maka ucapan tahniah atau ucapan selamat yang diajarkan oleh rasulullah saat antarsesama muslim bersua di hari Iedul Fitri yakni ‘Taqobalallahu minna waminka (waminkum), waja’alana minal adin wal faizin”, yang artinya “Semoga Allah menerima amaliyah ramadhan saya dan ramdhan anda/kalian, dengan demikian kita akan menjadi orang yang kembali (kpd agama) dan orang yang berbahagia karena telah beroleh kemenangan”.

Sedangkan pada kebanyakan masyarakat kita tahniah Iedul Fitri minal aidin walfaizin= mohon maaf lahir batin. Selain penerjemahan seperti ini jelas ngawur juga frasa “mohon maaf lahir batin’ juga secara semantic sesungguhnya kabur. Apakah maaf lahir itu? Kata ‘lahir’ dalam bahasa Indonesia ini dipungut dari bahasa Arab ‘al-dhohiru’ yang artinya tampak wujudnya. Sedangkan kata ‘batin’ berasal dari kata ‘al-bathinu’, yang arttinya tidak tampak wujudnya. Jadi jika merunut arti semantiknya pernyataan ‘mohon maaf lahir dan batin’ berarti mohon maaf atas kesalahan yang tampak maupun yang tidak tampak. Benarkah demikian? ( Jadi diandaikan seolah-olah orang yang kita mintai maafnya itu peramal/ paranormal yang bisa memihat yang tampak dan yang tidakj tampak hehe…). Bukankah akan lebih pas jika kita memohon maaf itu atas kesalahan-kesalan yang disengaja atau yang mungkin tidak disengaja? Ini lebih manusiawi sekaligus rasional

Menurut saya boleh jadi akibat pemahaman-pemahan yang keliru inilah sesungguhnya pangkal mula mengapa ritual Idul Fitri dalam kantong memori umat Islam di negeri ini dan sekitarnya dipersepsi sebagai kegiatan budaya yang wajahnya seperti kita lihat saat ini; memunculkan terjadinya perpindahan manusia secara besar-besaran dari kota ke desa yang disebut mudik, tradisi sungkeman, tradisi halal bihalal dan sejenisnya.. Padahal andai saja pengartian Idul Fitri itu pada yang kedua , yakni ‘kembali berbuka’ mungkin persoalanya akan jauh lebih sederhana dan kedatangan hari raya Idul Fitri tidak harus menjadi perhelatan budaya kolosal seperti sekarang ini. Wallahu a’lam. (Kholid A.Harras)

Awas Kesalahan Penulisan
1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar berdasarkan penulisan kaidah fonologis
2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasarkan EYD
3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf “dzal” dalam abjad arab
4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”
5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”, seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”

Mengapa hal ini perlu diperhatikan? Karena kesalahan penulisan abjad juga berarti berimplikasi pada pemaknaan yang juga bisa salah. Seperti dalam bahasa inggris, antara Look dan Lock beda maknanya bukan? Padahal perbedaanya disebabkan oleh salah satu huruf saja..

Rabu, 10 Agustus 2011

Sholat di mesjid kampung

Setahun berapa kali kamu ke mesjid?
Kalau rumahnya di depan mesjid sih mungkin sering yah... bisa subuhan di mesjid paling enggak.
Saya? setahun maksimal 20 kali. Dua puluh kali itu 2 kali sholat Ied dan sisanya tarawih.
Itu juga maksimal, alias kalau sedang rajin.
Jaman SD-SMP sih mungkin lebih sering, karena ada buku isian wajib bulan ramadhan dan waktu itu belum ada halangan menstruasi.

Semenjak bekerja, ada saja alasannya... yang bulan puasa sampai rumah sudah kelewat jam tarawih mesjid lah, atau kerja lembur jadi gak bisa tarawih di mesjid lah... sampai padatnya jadwal buku puasa bersama yang sering kali membuat absen sholat tarawih.

Mesjid yang sering saya sambangi sewaktu bekerja di daerah sudirman cuma: Al Azhar, BI, Raya Pondok Indah dan Raya Pondok Pinang. Dua yang terakhir ini biasanya karena ikutan nebeng mobil bos yang trayeknya ke arah sana. Tapi karena ingin mengejar tarawih di rumah, jadi di mesjid itu cuma sholat Magrib. Padahal sampai rumah juga sudah kecapean, jadi gak sholat tarawih di mesjid deket rumah juga.

Semenjak bekerja dari rumah, pilihan saya jadi cuma ke mesjid kampung deket rumah. Inginnya sih tahun ini 30 hari menyambangi mesjid. Mumpung lagi hamil, jadi gak pakai adegan berhalangan.
Mesjid ini letaknya kurang lebih 5 menit dari rumah saya. 
Karena Isya-nya jam 7 lewat 9 menitan jadi saya jalan ke mesjid jam 7. Kadang kalau dirasa-rasa kayanya buru-buru banget dari magrib ke Isya. Buka puasa - magrib - makan besar - langsung cabut ke mesjid. Kadang ga sempet istirahat untuk liat dagelan gak penting di TV.

Mesjid kampung itu unik.
Beda banget dengan mesjid yang biasa saya sambangi di jalur sudirman - lebak bulus, mesjid kampung itu unik.
Yang pasti jangan harap semegah mesjid BI yang ada AC-nya. Saya sengaja pakai baju yang bahannya adem dan menyerap keringat, karena ibarat sauna... pulang dari mesjid pasti badan teles kebes!
Jangan samakan juga dengan Al Azhar yang jamaahnya dewasa dan dewasa muda, di mesjid kampung range-nya dari anak-anak balita sampai nenek kakek.
Biasanya ibu-ibu akan menyuruh anak-anak di shaf belakang karena mereka kebanyakan mendiskon rakaat plus ada acara jajan dan jalan-jalan di sela sholat. 
Kalau dimesjid kampung saya, ruang dalam untuk jamaah pria. Dihari kesekian ada space sedikit untuk jamaah perempuan seiring dengan jamaah pria yang menyusut jumlahnya. Saya menyebut space perempuan ini ruang VIP. Kenapa VIP?
Karena tempatnya di area utama mesjid, lebih terang benderang, kena sorotan kipas angin, di tutupi pembatas khusus dari shaf pria dan ada teh hangat tersedia untuk jamaah di ruang VIP ini. Area ini biasa diisi oleh ibu atau nenek atau orang yang dituakan di kampung.
Lebih keluar sedikit dari ruang utama, ada area teras atas mesjid. Panjang shaf-nya sepanjang lebar mesjid tapi hanya 2 deret ke belakang. Ini biasanya diisi oleh jamaah ibu-ibu. 

Dibawahnya, sesudah tangga ada area teras luar. Area ini kira-kira seluas mesjid utama di dalam. Diberi pagar sebagai tanda area mesjid. Atapnya diberi pelindung tambahan permanen jadi jamaah tidak kehujanan. Area ini biasanya diisi anak-anak dan siapa saja yang sudah tidak kebagian area di depannya.
Yang terakhir area di luar mesjid. Ini sebenarnya badan jalan dari conblock yang biasa dilewati orang. Area ini ada di ramadhan hari 1-5 yang biasanya jamaah masih berjibun. Awalnya saya selalu dapat di area ini. Berbekal koran bekas untuk alas di bawah sajadah, kami yang sholat disini sekitar 4 baris shaf ke belakang, dan berkurang seiring ramadhan berjalan.

Ramadhan hari kelima, saya berhasil masuk ke area teras luar . Entah karena jamaah yang lain datang lebih malam atau memang rejeki aja. Sesudah hari ke lima area diluar mesjid sudah tidak ada. Dan kemarin, tarawih ke 10, saya dan mama berhasil masuk ke area VIP! hehehe..... Walaupun isinya sesepuh semua .
Habis daripada shaf kosong nganggur, kami masuk saja. Mungkin kalau mama saya yang sudah 65 tahun wajar ada disini. Tapi so far sih ya biasa saja, gak ada yang protes dengan kehadiran saya. Sholat di dalam sini lebih tenang, lebih khusus dan jamaahnya kalem semua.

Pengalaman sholat di area luar bareng bocah-bocah kadang bikin ngurut dada. Sholat yang harusnya 8 rakaat kadang cuma mereka ikuti 4 rakaat di depan. 4 rakaat lagi asik duduk di sajadah sambil main handphone atau ngobrol sama teman sampingnya. Nanti pas kultum mereka meninggalkan tempat untuk jajan di luar. Kadang ada yang sudah membereskan peralatan sholatnya. Mereka kembali ke tempat saat witir akan dimulai dan duduk saja. Setelah selesai mereka langsung menyerbu imam dan penceramah. 
Maklumlah di bulan ramadhan imam sudah kaya seleb yang dikerubungi untuk diminta tandatangannya.

Tidak semua anak-anak sholat seenaknya sendiri sih. Biasanya yang sholat di samping ibunya lebih tertib. Si ibu siap sedia menjitak kalau anaknya sudah mulai jelalatan kepingin keluar shaf.