Rabu, 23 Oktober 2013

Baby passport

Test Posting using BlogPress from my iPhone 😁

Mau cerita sedikit tentang pembuatan passport bayi.

Awal tahun 2013, suami tiba-tiba berwacana mau mengajak kami ke Jepang. Tadinya kupikir cuma wacana. Aku mah iya-iya aja. Eh taunya dia beneran book tiket air asia untuk kami bertiga.
Karena masih jauh dari tanggal pergi ya kita masih santai-santai aja. Padahal waktu itu attar belum punya passport dan kita statusnya belum punya Kartu keluarga rumah baru dan ktp aku dan suami masih alamat rumah orangtua masing-masing. Ditambah lagi awal tahun ini alhamdulillah kerjaan banyak banget. Suami dengan kerjaan kantor dan urusan lingkungan baru disini, aku dengan urusan jualan online dan bazaar kecil-kecilan.

3 bulan menjelang berangkat pun itinerary masih ngawang-ngawang, belum tau mau nginep dimana dan bawa apa aja. Googling soal pembuatan passport bayi dan akhirnya diputuskan apply passport online untuk di submit ke kantor imigrasi jakarta selatan di mampang.
Eh pas dicek ternyata passport aku juga abis masa berlakunya, jadilah sekalian diperpanjang secara online juga.
Ternyata prosedur online itu memotong prosedur penyerahan berkas aja.
Bedanya kalo yg langsung datang ke kantor imigrasi, ada prosedur penyerahan dokumen untuk di cek.
Kalo yang sudah submit dokumen online, nanti disana tinggal tunjukin dokumen asli, trus lanjut ke prosedur selanjutnya: bayar, foto dan wawancara.
Semuanya bisa diselesaikan dalam waktu satu hari.
Tapi kekurangannya daftar online ini, upload dokumennya lamaaaaa banget. Jadi tipsnya, uploadlah dokumen saat bukan jam sibuk dan gunakan internet yang jaringannya oke. Upload pagi buta atau malam biasanya lebih cepat.
Selanjutnya setelah dokumen terunduh, kita akan dapat waktu kapan harus datang ke kantor imigrasi dan bisa pilih mau yang dimana. Suami pilih imigrasi jaksel. Entah mengapa hehhehe.... Padahal jauh dari rumah. Mungkin karena konon kabarnya pelayanan kantor-kantor umum di jakarta sedang ada perbaikan jadi semua serba cepat.

Hari itu kami berangkat habis subuh dengan membawa semua dokumen. Kasian juga sih attar jadi harus bangun pagi-pagi. Maklum hari kerja, kalo kesiangan bisa kena macet dijalan.
Eh sampai kantor imigrasi loket belum buka karena memang belum waktunya. Loket buka jam 8, tapi yang antri udah kaya uler hhhh.....
Jadilah suami antri sendiri sementara aku dan attar keliling cari sarapan. Kebetulan di pintu masuk kantor imigrasi ada yang jual bubur ayam.

Selesai sarapan, balik lagi kedalam kantor. Masyallah... Makin penuh orang yang antri. Nggak nyaman banget buat bawa balita. Di dalam kantor ini ada ruang menyusui yang lumayan besar. Satu ruangan dengan 2 sofa tanpa sekat-sekat, lebih tepatnya seperti ruang tamu gitu deh. Tapi attar gak mau menyusui disitu. Karena kontras banget dengan suasana diluar yang ramai banyak orang.
Jadilah aku dan suami gantian kelimpungan menghadapi polah attar yang bosen ngantri lama, sambil pasang kuping takut gak dengar kalau nomor kita dipanggil.

Akhirnya nomor kita dipanggil juga. Permohonan passport attar ditolak karena belum punya KK, dan ktp ortu masih beda alamat. Kamipun balik dengan tangan hampa.

Agenda selanjutnya urus semua dokumen domisili. Alurnya, bikin surat pindah dari alamat lama aku dan suami. Ngurusnya ke RT-RW-kelurahan-kecamatan. Urusan birokrasi gini bikin senewen suami hehheh.... Untungnya bisa minta tolong orang lain.
Setelah kami berdua mengantongi surat pindah dari masing-masing kecamatan. Lanjut lapor pindah domisili di Depok. Untungnya ada petugas keamanan sini yang bisa dimintai tolong. Alhamdulillah orangnya juga gak mata duitan dan kerjanya cepat. Dalam beberapa hari KK baru dan ktp sudah ditangan.

Setelah lebaran, kurang dari sebulan tanggal keberangkatan kami ke jepang, kami kembali apply passport attar.

Masih dengan prosedur yang sama, kami apply online semua dokument. Attar apply baru, aku perpanjangan, suami penggantian alamat passport.

Memakan waktu 5 jam hari itu kami di kantor imigrasi jakarta selatan. Attarnya sudah mati gaya kebosanan. Aku dan suami sama-sama menahan diri untuk gak kebawa emosi.

Ketika tiba waktunya foto passport, attar yang sudah ngantuk berat malah nangis di ruang foto. Terpaksa deh keluarin ipad dulu, putar film ipin upin. Jadi di depan kamera, sambil setel opin upin. Ipad ditaro agak dekat dengan lensa kamera. Tinggal dipanggil "attar, liat sini sebentar nak..." Jadi deh fotonya.
Alhamdulillah 4 hari kemudian passport jadi.