Kamis, 24 Juli 2014

How education, teachers and people could be so mean

Setelah punya anak, saya mulai memahami bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Unik. Ada anak yang aktif, serba ingin tahu dan kerap dianggap nakal atau gak menurut. Ada anak yg kalem, manut aja dan biasanya dianggap anak yang baik & patuh pada aturan.

Saya mungkin dulu yang nomor 2. Orang tua saya bukan tipe otoriter, tapi mereka punya aturan yang jelas tentang apa yang boleh & tidak boleh saya lakukan. Harus sopan, harus belajar, harus rengking di kelas, harus naik kelas, masuk sekolah yang bagus & dapat pekerjaan yang baik. Untung gak pakai aturan harus jadi pegawai negeri seperti teman-teman perempuan saya yang lain 😁

Kemudian dari dua tipe diatas ada pembagian lagi. Yang aktif, cerdas & ia paham betul ia harus rajin belajar supaya cemerlang di kelas. Ada juga yang aktif tapi "menolak" untuk ikut arus jadi anak cemerlang di pelajaran sekolah. Atau bukan dirinya yg menolak tapi otaknya memang dominan kiri, alias lebih mudah melakukan hal2 seni & kreatif daripada konsentrasi ke pelajaran sekolah.
Demikian halnya pun dengan anak yang kalem. Ada yg sadar diri untuk cemerlang dikelas. Dan ada uang kalem tapi ga mau dipaksa seperti apa juga otak nya tidak dapat dengan mudah menghafal & berlogika di pelajaran hitung-hitungan.

Parahnya, untuk sebagian besar sekolah, guru & masyarakat umum, termasuk didalammya orangtua, anak yang baik & menurut adalah yang bisa diterima. Mereka kerap meluapkan kemarahan untuk anak yang tidak sesuai keinginan mereka. Semua anak harus patuh & seragam. Mereka memasung kreatifitas.
Agak sulit mencari sekolah yang bisa melihat setiap anak dengan perbedaannya masing-masing.

Padahal anak kan harus dilihat secara unik. Dilihat minat nya & diarahkan. Kalau minatnya ke seni ya biarlah iya berkesenian. Kalau minatnya ke sains ya biarlah iya belajar sesuai cara yang paling baik untuknya.

Semakin menggebu nih cita-cita saya menyekolahkan attar di sekolah alam. Karena saya berharap attar bisa lebih bebas & tidak merasa dikekang bangku sekolah formal. Selain itu sekolah alam cocok untuk anak yang aktif.
Tapi suami beranggapan attar cukup masuk sekolah negeri saja. Seperti kami berdua dulu. Tinggal bimbingan dari kami saja yang harus extra untuk mengembangkan kemampuan attar agak bisa lebih baik dari anak sekolah negeri pada umumnya. Maksudnya supaya attar lebih kritis dan tidak melulu berpola pikir seragam.

Kenapa tiba-tiba saya ngomong masalah ini?
Saya baru saja browsing fb melihat teman-teman SD-SMP saya yang sudah lama tidak tau kabarnya.

Ada satu anak yang saya ingat agak kurang bisa mengikuti pelajaran di kelas. Agak lambat gitu. Sampai pernah kena omel luar biasa oleh guru matematika. Tapi ia sendiri sih cuek aja. Cuek manut. Alias pasrah. Kalo dibaca dari raut wajahnya seperti ia merasa tidak ada yang salah.
Ternyata ia bisa saja lulus dari smp, sma dan lanjut kuliah. Ternyata eh ternyata... Minatnya ada di kesenian. Desain & fotografi. Dan sepertinya ia sudah menemukan jalannya.

Demikian juga dengan beberapa teman lelaki yang kurang cemerlang di bidang akademis di smp-sma. Sekarang mereka bekerja di tempat yang mereka inginkan.

Yah... Gak usah ambil contoh jauh-jauh deh. Suami saya. Pak suami ini dulu dikelas hobby nya ngobrol. Untuk urusan menghafal pelajaran agak kurang cepat. Tapi kalau menghafal nama-nama pemain bola dan sejarah klub.... Semua dia tau. Ternyata hafalan soal tokoh terkenal dan sejarahnya juga diluar kepala. Ini karena ia minat & merasa termotivasi dengan kehebatan tokoh-tokoh tersebut. Walau dalam hal nilai di sekolah kurang menonjol, tapi kini ia bekerja di bidang yang sesuai keinginannya. Wirausaha di bidang desain. Ia adalah pekerja yang detail, hitung-menghitung keahliannya. Mengingat banyak hal merupakan perkara yang mudah buatnya. Lah terus kenapa dulu di sekolah gak menonjol? Wallahualam... Hehhehe...


- Posted using BlogPress from my iPhone