Sabtu, 14 November 2015

Kentjan berdua

Kapan yah bisa kencan berdua suami lagi?
Kok tiba-tiba pingin.
Dulu sebelum nikah kalo nonton berdua, pulang berdua rasanya biasa aja. Secara waktu itu juga gak pacaran, tau-tau dilamar terus nikah.
Sekarang, seiring rasa cinta makin tebal (#tsaaah) pingin rasanya jalan berdua, nonton berdua, makan berdua keluar.
Bukannya tidak mensyukuri punya buah hati. Alhamdulillah sudah punya anak, dan sama sekali tidak menjadi beban sih, kemana-mana sama anak. Tapi kayanya seru sekali-kali day out berdua suami.





- Posted using BlogPress from my iPhone

Minggu, 08 November 2015

Ikhlas

Copas dari fb temen

Pelajaran sore ini...

TADABBUR : BAB YANG TAK PERNAH USAI…

Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Allah azza wa jalla berfirman:

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”

(QS: Al-Mudatsir: 6)

Seorang atasan yang baru saja membantu bawahannya keluar dari kesulitan hidup terlihat kesal, rupanya ia tak mendapat perlakuan yang istimewa dari sang bawahan.

Seorang konglomerat yang selalu mendermakan hartanya di jalan dakwah, terlihat bermuram durja saat kehadirannya tak begitu diapresiasi.

Seorang da’i yang siang malam berdakwah di jalan Allah, terlihat begitu jengkel ketika tidak mendapatkan pelayanan yang berarti dari jamaahnya, atau merasa dilupakan oleh murid-muridnya.

Hatinyapun berbisik “Kalau bukan karena saya kalian tidak akan begini dan begitu. Kalau bukan karena saya, maka si fulan tidak akan sesukses itu. Atau mengatakan, “Sayalah yang dulu menunjuki fulan ke jalan hidayah“
.
Tidak, itu tidak boleh terjadi, bahkan ia harus merasa belum berbuat apa-apa. Allah berfirman:

يمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان

“Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman.” (QS. Al Hujurot: 17).

Begitulah…
Ketika seseorang merasa telah berbuat banyak, kadang dirinya dihadapkan pada perang melawan syahwat khafiyah* yang memintanya agar menuntut pujian atau balasan yang lebih dari apa yang ia diberikan.
Bila bisikan-bisikan itu datang, katakan pada diri:

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”

(QS: Al-Mudatsir: 6)

Ketahuilah..
Manusia yang paling melelah adalah mereka yang berbuat, kemudian mengharapkan balasan yang setimpal atau lebih dari manusia.
Berbuatlah untuk Allah, bukan untuk dikenang..
Berbuatlah, kemudian berlalulah..
Seperti Musa yang berlalu setelah mengambilkan air untuk dua putri Madyan.

Yakinilah…
Bila manusia melupakan kebaikanmu, maka Allah takkan melupakannya.
Bila kebaikanmu tak tertulis indah dalam diary orang lain, maka ia akan terukir indah disisi-Nya.

Sekali lagi.. Ikhlas adalah bab yang takkan pernah usai, hingga ujung usia.

Catatan:

*Syahwat Khafiyah adalah keinginan-keinginan yang tersembunyi di balik setiap tindakan

Wallahu a’lam
_________________
Madinah 23-01-1437 H
ACT El-Gharantaly

Senin, 11 Mei 2015

Self reminder

Makin tambah umur makin menyadari kesalahan masa muda. Dulu suka seenaknya sendiri kalo ngomong, suka suudzon sama orang, suka nyimpulin sesuatu berdasar asumsi gw sendiri.

Walaupun sampe sekarang pun masih banyak lupanya dan terus belajar, tapi seenggaknya tahun-tahun belakangan ini mulai mencoba lebih baik. Lebih baik diem daripada ngomong tapi nyakitin orang. Lebih baik jangan suudzon dulu sama orang kalo ga tau faktanya. Lebih baik bersyukur dengan kondisi yang ada dan selalu berfikir positif sama orang. Lebih baik geleng-geleng aja kalo ngeliat orang melakukan hal yang sama, karena gak semua orang menghargai niat baik kita saat diingatkan.
#selfreminder
#tumbenbener
#efekasamuratkalinih



- Posted using BlogPress from my iPhone

Sabtu, 09 Mei 2015

Awasi anak

Anak gw umurnya 3th.
Tiap dia main keluar rumah, sendiri atau sama temennya pasti gw liatin. Kadang dari deket, kadang dari jauh. Pokoknya masih gw awasin.
Gw suka binun sama ortu/art/baby sitter yang ngebiarin anak BALITA main diluar rumah tanpa diawasi.
Gimana kalo anaknya disakiti, menyakiti atau berbuat gak baik ke orang lain. Balita kan lagi masanya meniru.
Beberapa kali gw menghadapi temen anak gw yg masih balita juga mencontohkan hal buruk ke anak gw.
Dorong, bentak2, nginjek kakinya atau mukul. Ya kalo gitu kan pengawas itu anak ga liat anaknya berbuat begitu, gw cuma bisa bilang jangan yaaa...
Kalo anak gw yang ngisengin, gw selalu ada di situ untuk misahin dan ngelarang anak gw berbuat begitu.
Mbok yooo... Eboo-eboo, mbak bebisiter or art, anak2nya diawasi. Kan itu tugas anda menjaga & mendidik titipan Allah yang satu ituh. Jangan lalai dan jangan nyusahin orang lain dong.


Kamis, 16 April 2015

Belly dance

Hari ini mencoba latihan belly dance.
Yaampuuun baru 1/2 jam pertama keringetannya udah kaya diguyur.
Masih belom mahir mainin perut sih. Maklum baru percobaan pertama.
Ternyata tekniknya beda banget sama body language.
Karena kebiasaan BL, tahan perut buang nafas- jadi kebawa.
Kalo belly dance malah perut jangan ditahan. Jangan dikencengin.
Dilepas - tarik - lepas tarik. Digertarkan, kaya ngocok lemak di perut gitu.
Susahnyaaaa...
Musti latihan sendiri di rumah nih.

Asik karena gw memang doyan goyang. Tapi entah kenapa badan kaya kaku gak lepas gitu.

Minggu depan coba lagi.

Malah jadi lebih tertarik ini dari pada body language.

Senin, 13 April 2015

Ibu cepat saji

24/7
Waktu kerja ala-ala mekdi.
Dari melek mata sampai tidur lagi malam hari.

Badan, pikiran, emosi, semua tercurah untuk pekerjaan yang bayarannya begitu mahal ini.

Bayarannya pahala, bila mampu bekerja sesuai jobdesk dari Allah SWT.
Bayarannya rasa cinta dari buah hati, kalau bisa membuatnya kenyang, nyaman dan merasa dicintai.
Bayarannya ridho dari suami.

Ibu sebenernya gak butuh "me time".
Ibu gak butuh romantis-romantisan dari suami.
Gak butuh apa itu bunga, kado, perhiasan, apalah.

Tapi ibu butuh rasa dicintai. Dulu kami dinikahi karena cinta kan? Karena kami pernah cantik. Sebelum kami gendut, acak-acakan, lupa high-heels, tak pernah menyentuk eyeliner & lipstick.

Dimengerti.
Pekerjaan dikantor dan dirumah sama-sama capek walau berbeda porsinya. Mengertilah!

Dihargai, walau cuma kerja dirumah. Ketemu cucian lagi, kompor lagi, toilet kotor lagi. Tapi hargailah pilihannya untuk melayani. Walau bukan pelayan.

Diberikan kebebasan mengutarakan pikiran, mengeluh, mengomel, apapun itu cara kami mengutarakan pikiran.

Tidak direndahkan, tidak dibunuh karakternya. Dibiarkan berkembang.

Ibu yang tersakiti akan sulit bekerja maksimal.
Ibu yang sedih, akan sulit membuat anak dan suaminya gembira.

Ibu cepat saji. Jiwa raga kami persembahkan 24/7.
Multi tasking untuk semua pekerjan. Tidak pernah mudah.
Jangan pernah bilang kami lelet. Lambat.

Tentu saja ibu cepat saji juga pemaaf. Karena kami bekerja dengan cinta.
Kami sepertinya tak pernah punya hak untuk melarang suami jangan ini jangan itu. Apalagi keluar kalimat "jangan diulang sekali lagi".
Jadi jangan kasar dengan kami.
Apalagi mengancam.
Karena ditangan kami anak-anak kami didik. Ridho Allah untuk suami pun ada sedikit andil kami.



Kehadiran tanpa kehadiran

Kehadiran tanpa kehadiran
Ditengah waktu yang sempit, kejadiranpun hadir tanpa kehadiran.
Jiwa hadir tapi pikiran entah kemana.
Hadir tapi sibuk dengan gadget masing-masing.
Mata ke layar hp, kata-kata yang keluar tanpa tatap mata.
Hadir tapi tak sadarkan diri. Sibuk terlelap. Tidur.
Seolah kawan tak ada artinya.
Padahal perjumpaan begitu singkat.

Sabtu, 04 April 2015

Happy 5th wedding anniversary

5th yang lalu perjanjiannya kurang lebih begini: Kita saling jaga perasaan dan martabat kita masing2.
Sesimpel itu.
Tapi pelaksanaannya kompleks juga. Masalah juga adaaaa aja, kecil dan besar. Tidak menceritakan masalah rumah tangga ke orang tua (yang mungkin akan membuat mereka sedih, marah atau sakit hati), tidak menceritakan ke sahabat, orang deket-orang jauh, apalagi sosial media. Menjaga aurat & menjaga kelakuan. Terbuka, kalo ada apa-apa ngomong aja, dan membuat nyaman satu sama lain. Alhamdulillah sampai hari ini susah sedih ditanggung bersama. Biar orang tua & orang lain liatnya kita bahagia aja.
Makasih ya kekasih.
Selamat 5th-an 😝



Sabtu, 07 Maret 2015

Pikir

Sebelum komplain, lihat dulu dari kedua sisi.
Sebelum menuduh orang ini itu, tanya dulu kebenarannya.
Sebelum mengeluarkan kata-kata negatif, pikir dulu apakah akan menyakiti orang lain. Rasa dulu gimana kalo Anda diposisi itu.

Lebih baik berkata baik. Atau diam.



- Posted using BlogPress from my iPhone

Kickoff gathering

Kantor kami -kantor suami saya dan teman-temannya tepatnya- berencana mengadakan family gathering. Ini yang perdana. Karena sebagian besar memang sudah memiliki keluarga.
Biasanya cuma travelling tahunan yang melibatkan karyawan saja.
Walaupun perusahaan ini masih usaha kecil, tapi alhamdulillah sudah rutin mengajak pekerjanya jalan-jalan refreshing.
Mereka sudah pernah ke karimun jawa, ke singapore dan malaysia.
Well, pekerjanya masih sedikit sih. Gak sampai 10 orang tiap tahun.
Tapi acara jalan-jalan ini cukup efektif "menyegarkan" suasana diantara load kerja yang padat.
Jalan-jalan ini kan juga sebagai bentuk apresiasi dari perusahaan.
Ada loh perusahaan yang lebih besar yang malah belum pernah mengajak jalan-jalan pekerjanya sampai ke luar negeri 😜

Jadi inget masa-masa indah saya jadi karyawan dulu. Masa-masa indahnya kalo lagi kickoff meeting saja hehehehhe..... Pas kerjaan lagi banyak sih gak indah.

Saya dulu sempat ikutan kickoff meeting ke bali (sampai 4-5kali, lupa), ke singapore, hongkong, macau dan bintan.
Seru semua pengalamannya.
Paling asik tentu bagian jalan-jalan ke tempat baru, nginep di hotel berbintang dan belanja. Tapi yang gak kalah asik bagian mendapatkan training motivasi dari orang-orang hebat. Rasanya jadi tercerahkan. Bagian lain yang asik adalah team building. Biasanya team building ini dalam bentuk outbound atau performance grup.
Nah performance grup ini nih yang ga karuan. Kami diminta melakukan comical play, dalam bentuk drama pendek atau nyanyian dengan tema tertentu. Biasanya waktu yang diberikan untuk tampil sangat minim. Demikian juga dengan waktu untuk mempersiapkan dan dana untuk tampil, sama minimnya.
Tapi disitulah seninya. Serunya. Bagaimana tiap kelompok yang isinya random dari masing-masing department bekerja sama mengorganisir semua.
Dari yang ogah-ogahan, pas waktunya tampil jadi total banget gak pakai malu-malu. Motivasinya apalagi kalau bukan hadiah yang berlimpah. Hadiah best performance, best group, punctuality dan lain-lain.
Dan acara ini akan meninggalkan kisah manis yang akan terus diceritakan tiap tahunnya. 😁
I missed those moments.

Nah pas suami mengutarakan niatnya tentang family gathering, yang ada dipikiran saya adalaj menjadikan acara ini memorable untuk semua.
Kalo bisa sih bertabur hadiah untuk karyawan. Terus ada games-gamesnya juga. Satu lagi, kalo bisa ada training dari motivator juga. Untuk recharged semangat bekerja. Yang pasti bukan m*rio t*guh. Ga sejalan kalo doi dengan prinsip kantor ini. Mungkin yoris sebastian, atau jagoan startup, atau orang-orang hebat dibidang kreatif.
Pak suami sih sudah mendengar ide dari saya, tinggal liat aja nanti bagaimana implementasinya 😁



- Posted using BlogPress from my iPhone

Minggu, 01 Maret 2015

The day I meet you, my baby

Kami menamai bayi kami AtaurRahman.

Sebuah nama di buku nama-nama bayi yang sejak awal sudah mencuri perhatian kami. Artinya Hadiah dari Tuhan.

Atar lahir di minggu ke 37 kehamilan saya dalam keadaan leher terlilit tali pusat. Kata dokter, paru-parunya sudah matang, sudah dapat dilahirkan. Plasentanta berada di atas, jadi masih bisa dilahirkan secara normal.

Rabu, 26 Oktober saya flek beberapa kali tapi tidak ada tanda-tanda mules. Untuk memastikan saya kontrol ke dokter Ningtyas di RS UIN syarif Hidayatullah. Belum ada tanda-tanda bukaan. Tapi kami diberi pengantar dari dokter untuk melahirkan sewaktu-waktu.

Hari itu Jumat 28 Oktober, saya mulai merasakan mulas-mulas teratur. Tanda kelahiran semakin dekat. Di Iphone yang saya pakai ada aplikasi timer untuk menghitung durasi dan frekuensi kontraksi. Awalnya sekitar 20 menit sekali, 12 menit sekali, 10 menit sekali, lama-lama 5 menit sekali. Saya bilang ke suami kita ke dokternya besok saja hari sabtu, walau rumah sakitnya dekat tapi kalo ternyata bukaannya masih sedikit nanti kita pasti disuruh kembali ke rumah.

Sabtu jam 8 pagi 29 Oktober saya langsung cek ke UGD. Ternyata pembukaan sudah 3. Alhamdulillah.

Saya pun di rujuk ke ruang bersalin.

Rasa mulasnya mulai semakin kencang, seperti sedang menstruasi parah. Masih bisa ditahan saya hanya mempraktekan pernafasan seperti yang diajarkan di kelas senam hamil.

Menjelang siang rasa mulasnya semakin luar biasa. di ruang bersalin saya ditemani suami, mama dan bapak. Ketika di cek bukaan sudah bertambah jadi 7.

Sewaktu bidan mengelurkan tangannya tiba-tiba Byuuuuuuurrrr.....

air tumpah dari bawah diiringin rasa lega.

"Ketuban pecah spontan!" kata bidan

Oh My God!

Dan parahnya bukaan malah mengecil jadi 6 dan perut makin melilit. Kali ini di tambah rasa seperti ada dorongan dari dalam pantat ke arah luar.

"Tarik nafas bu, kasih oksigen yang banyak buat bayinya...... jangan ngeden dulu!" kata bidannya. Dokter Ningtyas belum datang, jadi saya masih ditemani bidan-bidan.

Katanya kalau saya ngeden sebelum bukaan 10, jalan lahirnya bisa bengkak. Tapi rasa dorongan dari dalam makin tidak tertahan. Saya masih konstan mengatur nafas tapi terus-terusan mencengkram tangan suami dengan erat.

Kata mama wajah saya sudah sedemikian pucat.

Mungkin karena tau saya menahan sakit yang begitu hebat, suami saya berbisik "jangan ditahan yang..., kalo sakit ekspresiin aja"

Yang awalnya hanya tarik nafas teratur saya tiba-tiba teriak "haduuuh sakit"

Teriakan yang sama muncul terus teratur seiring dengan tiap dorongan dari dalam. Rasanya seperti ada pup besar yang mau keluar, tanpa mengedan pup itu terus menerus mendorong minta keluar.

"haduuuh sakiiiiiittttt"

.....

ketika dokter Ningtyas datang, di bukaan 8 si jabang bayi belum juga ada tanda-tanda turun. katanya masih jauh di atas. Ujung kepala sudah terlihat tapi masih terlalu jauh dari jangkauan.

Saya masih berbaring ditempat tidur bersalin, meringkuk kesakitan. Sebuah selang dipasang supaya kandung kemih saya tidak harus menampung air seni. Katanya kandung kemih yang penuh salah satu menghambat jalan bayi turun.

Air seni dan kotoran keluar seiring dengan dorongan dari dalam semakin kuat.

"jangan ngeden bu"

"Tarik nafas yang dalam bu, kasih oksigen buat bayinya"

Beberapa bidan terdengar memerintahkan instruksi.

Karena gak boleh ngeden tapi dorongan dari dalam membuat seolah saya ngeden otomatis, akhirnya saya sekuat tenaga menahan "si dia yang mendorong untuk keluar"

Tanpa terasa kaki saya tekuk sampai tumit menyentuh pantat. sakitnya luar biasa.

Jam 8 saya masuk UGD, jam 2 saya masih terbaring menahan sakit di ruang bersalin.

Suami saya tampak meninggalkan saya sejenak menuju dokter ningtyas. Ketika ia kembali ia berbisik "sayang, masih kuat?"

Spontan saya bilang"udah sesar aja"

suami saya kembali ke dokter ningtyas kemudian mengisi kertas-kertas dan terdengar bidan dan dokter mempersiapkan prosedur sesar.

saya pikir, dari keputusan sesar itu, operasi akan segera dilakukan... ternyata... saya masih harus menunggu dalam keadaan mules luar biasa.

Menunggu team dokternya lengkap. Dokter anastesinya sedang berada di RS Fatmawati. Team dokter yang lain entah dimana. Masih harus menunggu ruang disiapkan, obat disiapkan dan lainlain.

Rasanya lamaaaaaa banget.

saya cuma bisa teriak "ini saya gak bisa dikasih bius dulu??"

Dari ruang bersalin saya dibawa dengan kursi roda ke ruang operasi sambil menahan dorongan dari dalam yang semakin kuat. Saya tidak perduli terus berteriak tiap rasa sakit datang.

Ternyata saya dibawa di ruang transit dulu sebelum ke ruang operasi. dokternya belum datang. Haduuuuuuuh......

Jam 4 saya baru dibawa ke ruang operasi. Beberapa menit di tes alergi dan tekanan darah. Seseorang memasangkan infus di tangan kiri dan alat tensi di lengan kanan. Akhirnya rasa sakit hilang setelah saya disuntik di pinggul belakang. Obat bius.

Setelah itu semua terasa enteng. Saya tidak lagi bisa merasakan mulesnya, tapi semua suara di ruangan itu masih bisa saya dengar. Seorang dokter bertanya "ibu hobinya apa?"

Pertanyaan super gak penting itu saya anggap tidak terdengar. Usut punya usut ternyata yang bertanya itu dokter hypnobirthing, dengan maksud membuat saya rileks. Hah, mana saya sepat menjawab pertanyaan macam itu.

Tekanan dan goyangan di area perut masih bisa saya rasakan, hanya terasa seperti gerakan, tanpa ada rasa sakit.

Sayup-sayup terdengar "oiya, tersangkut"

Sepernyata si baby berusaha sekuat tenaga keluar tapi tidak berhasih karena terlilit tali pusat di lehernya.

Badan saya rasanya begitu enteng sampai sepertinya saya beberapa kali tertidur tapi tetap terjaga. Saya bolak-balik melirik ke arah jam dinding. Operasi yang begitu lama.

16.00 saya masuk ruang operasi.

16.45 bayi saya berhasil dikeluarkan, tanpa menangis. Beberapa menit kemudian ia dibawa ke saya setelah dibersihkan dan dibedong. ia diletakkan di payudara saya. Spontan ia menghisap payudara saya sebentar ketika kemudian dibawa pergi kembali karena tertidur di dada.

18.00 operasi selesai. Saya masih tidak bisa merasakan apapun. Bahkan ketika dipasangkan kateter, dipakaikan kain dan dipindahkan ke ruang transit kembali.

Sekitar 1 jam saya diruang transit. Suami, mama dan bapak boleh masuk bergantian.

Saya masih dalam keadaan fly dibawah pengaruh obat bius.

Tekanan darah saya terus dipantau dengan mesin otomatis yang menyala beberapa menit sekali.

Pertanyaan saya cuma 1 when will i see my baby?

Menjelang jam 2 petugas masuk dengan membawa tempat tidur beroda. Saya pun dipindahkan. Dengan pinggang kebawah masih mati rasa.




- Posted using BlogPress from my iPhone

Senin, 16 Februari 2015

Everything is possible

Istrinya mantan pekerja di perusahaan multinasional yg punya moto segalanya mungkin, dan terbiasa dengan projek roro jonggrang.

Suaminya pegiat ukm (usaha kecil menyenangkan -kadangmenyedihkan) yang jeli liat jalan keluar.
Buat kami kalo kita berusaha Insyaallah Allah kasih jalan. Dan semuanya mungkin.
Jadi kalo ketemu sama orang pasrahan yg nyerah sebelum berjuang rasanya pingin nyium.

Nyium pake pantat wajan panas.
😘



- Posted using BlogPress from my iPhone

Senin, 26 Januari 2015

Apeulah

Sepertinya saya tidak bisa menahan diri saya untuk tidak marah dan kecewa.
Saya tidak habis pikir.
Berbagai macam uneg-uneg, teori konspirasi, rasa heran dan tidak percaya muteeer-muteeer di kepala.
Kok bisa
Kok tega

Yah, saya mah apa atuh.... Cuma ibu rumah tangga naif yang punya pikiran dasar bahwa semua orang baik. Kalo kita baik sama orang, pasti dia akan berbuat serupa.

Tapi rupanya tidak berlaku di politik yah....
Di politik, nomor satu adalah cari selamat.
Bahkan teman sendiri pun bisa didorong ke jurang demi cari selamt.
Teman sendiri bisa ditinggal di pesawat yang hampir tertabrak, demi menyelamatkan diri loncat dari pesawat dengan satu-satunya parasut yang tersisa.

Saya mah gak ngerti politik, belajar ilmu politiknya cuma 3sks jaman kuliah komunikasi.

One thing for sure politics change people.

Apa sebab sih saya ngalor-ngidul ngomongin politik?
Sesuatu mengganggu saya.
Tentang pemilihan pemimpin di lingkungan.
Luar biasa karena pemimpin-pemimpin yang lama sudah panas pantatnya ingin segera turun. Sementara tidak ada calon yang suka rela menggantikan.
Underline the word Sukarela.

Jadilah dibuat mekanisme pemilihan masing-masing warga memajukan 3 calon pilihannya.

Aaaagh.... I'm too mad even just to write it down.

.............

Baiklah. Setelah menenangkan diri kurang lebih 10 jam, mari kita lanjutkan lagi ceritanya.

Pak suwami yg suka hahahihi sama orang-orang dilingkungan ternyata masuk 3 besar yg dipilih.
Dan tanpa ditanya lagi kesediaannya, yup, kesukarelaannya.... Langsung di putuskan jadi orang nomor 2. Berdasarkan banyaknya suara yg masuk, doi nomor 2.
Gilingan padi disawah.
Tanpa babibu, dan sangat terburu-buru, ibarat orang sudah mules kebelet buang air..... Langsung diputuskan begitu.
Mbok yo ditanya dulu bersedia kagak??
Dalihnya, kalau ditanya bersedia dulu atau gak, katanya gak ada yang akan mau.
Halloooow.... Ya trus yang suaranya terbanyak ditumbalin gitu yah?
Apakabar musyawarah mufakat???

Dimana-mana, pemilihan bukan begitu kapteeeeeen.....
Nomor 1, ada kesediaan calon
Bila nomor 1 terpenuhi, peserta juga harus sepakat dong.
Pemilihan ulang dari 10 calon yang sudah terpilih masuk.
Lah kalo mau putusin aja, kasihan yang gak memilih ketiga calon diatas dong... dong... dong....

Kali udah saking kebeletnya pingin turun tuh.

Saya pribadi - kalau boleh protes - maunya protes.
Tapi apa daya, imam saya bilang jangan, just wait and see.

Katanya, kamu jangan kegabah.
Jangan bersikap seperti orang kalah perang.
Ya bayangkan yang jadi no 1, kaya apa lebih kecewanya. Kaya apa lebih keselnya.
All we have to do now is supporting each other.
Bantu mereka semampunya.
Kita kan gak seperti orang yang doyannya cuma cari selamat.

All i have to do now is supporting my imam. Kalo marah-marah kasian doi, dan sayang amat buang-buang energi.

Berdoa aja, semoga Allah kasih kami kekuatan dan petunjuk untuk selalu berada di jalan yang lurus.

Biar Allah yang bales.





- Posted using BlogPress from my iPhone

Senin, 12 Januari 2015

Pencipta generasi tangguh


Kita hidup di era dimana kebohongan dimana-mana. Citra jadi nomor satu. Yang penting jadi ga penting. Yang remeh temeh jadi penting.
Kita hidup di era banyak orang kehilangan jati diri. Orang-orang jadi pengeluh, apa yang tidak sesuai keinginannya jadi hal yang salah.
Dan kita hidup di era dimana yang minoritas, walau benar jadi salah. Dan yg salah, bila dianut mayoritas jadi benar.

Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

***

Sesaat setelah saya melahirkan, masuklah saya ke masa-masa baby blues. Gak punya pengalaman, dan kurang dukungan dari orang sekitar. Bawaannya melow aja. Gak punya rasa percaya diri untuk mengurus anak sendiri.
Sampai seorang sahabat saya menasehati "jadi ibu itu harus kuat, tegar, tahan banting. Karena kita punya bayi mungil yang bergantung hidupnya pada kita. Kalo ibunya lemah, gimana nasib anaknya"
Jedeeeer!!!

Dan sayapun tersadar. Semenjak saat itu jadi punya tekad, saya harus kuat. Ini baru bayi mungil. Urusannya masih level awal. Baru butuh perawatan fisik, asi, kasih sayang. Harus kuatlah.
Harus keras kepala sedikit.
Maka sayapun kekeuh sejak itu. Karena saya tau, asi - cuma asi yg dibutuhkan bayi sampai usia 6bulan, maka anak saya cuma saya beri asi. Air putih pun tidak.
Lanjut ke makanan pendamping asi setelah 6 bulan. Saya kekeuh memberikan hanya makanan rumahan yang saya buat sendiri. No makanan instan. No gula-garam sampai usia 1 tahun.
Walau ada aja yg bilang anak saya kurang gendutlah, kurang ini kurang itulah.... Tapi saya punya aturan sendiri.
Soal pengobatan pun begitu. Sebisa mungkin saya usahakan dulu home treatment, kalo bisa jangan dikasih obat2an. Batuk pilek bisa berkurang dengan dijemur sinar matahari pagi, membatasi penggunaan AC saat tidur dan sirkulasi udara yang baik. Menurunkan panas bisa dengan mandi berendam air hangat, asal tidak demam.
Alhamdulillah dapat dokter yang sejalan dengan keinginan saya.

Sejalan dengan perkembangannya, cobaan makin meningkat. Levelnya sudah bukan soal perawatan dan pemberian makan saja. Tapi juga soal bagaimana berperilaku dan memperlakukan anak.
Anak itu peniru yang ulung. Apa saja yang saya dan suami lakukan kerap ia ikuti.
Jadi benar2 harus hati2. Kata jangan sudah bukan lagi larangan agar anak tidak melakukan sesuatu.

Saja jadi ingat lagi nasihat kawan saya. Kalo ibunya gak kuat gimana anaknya? Kalo ibunya dikit-dikit ngeluh, dikit-dikit marah gimana anaknya? Kalo ibunya gak bisa nahan diri untuk tidak menyampaikan yang ga perlu disampaikan gimana anaknya?

Era saat anak-anak kita dewasa nanti, pastinya akan lebih aneh lagi. Jadi kalo yang kita ciptakan adalah anak yang suka mengeluh, tidak bisa memilah mana yang pantas dan tidak untuk dikonsumsi umum, jadi apa dia nanti?

Yuk kita sama-sama belajar jadi contoh yang baik.
Jadi ibu-ibu yang kuat.
Bukan ibu-ibu yang gampang mengeluh.
Karena bisa jadi keluhan kita itu remeh-temeh bila dibandingkan dengan ibu lain yang tidak seberuntung kita.




- Posted using BlogPress from my iPhone