Sabtu, 07 Maret 2015

Pikir

Sebelum komplain, lihat dulu dari kedua sisi.
Sebelum menuduh orang ini itu, tanya dulu kebenarannya.
Sebelum mengeluarkan kata-kata negatif, pikir dulu apakah akan menyakiti orang lain. Rasa dulu gimana kalo Anda diposisi itu.

Lebih baik berkata baik. Atau diam.



- Posted using BlogPress from my iPhone

Kickoff gathering

Kantor kami -kantor suami saya dan teman-temannya tepatnya- berencana mengadakan family gathering. Ini yang perdana. Karena sebagian besar memang sudah memiliki keluarga.
Biasanya cuma travelling tahunan yang melibatkan karyawan saja.
Walaupun perusahaan ini masih usaha kecil, tapi alhamdulillah sudah rutin mengajak pekerjanya jalan-jalan refreshing.
Mereka sudah pernah ke karimun jawa, ke singapore dan malaysia.
Well, pekerjanya masih sedikit sih. Gak sampai 10 orang tiap tahun.
Tapi acara jalan-jalan ini cukup efektif "menyegarkan" suasana diantara load kerja yang padat.
Jalan-jalan ini kan juga sebagai bentuk apresiasi dari perusahaan.
Ada loh perusahaan yang lebih besar yang malah belum pernah mengajak jalan-jalan pekerjanya sampai ke luar negeri 😜

Jadi inget masa-masa indah saya jadi karyawan dulu. Masa-masa indahnya kalo lagi kickoff meeting saja hehehehhe..... Pas kerjaan lagi banyak sih gak indah.

Saya dulu sempat ikutan kickoff meeting ke bali (sampai 4-5kali, lupa), ke singapore, hongkong, macau dan bintan.
Seru semua pengalamannya.
Paling asik tentu bagian jalan-jalan ke tempat baru, nginep di hotel berbintang dan belanja. Tapi yang gak kalah asik bagian mendapatkan training motivasi dari orang-orang hebat. Rasanya jadi tercerahkan. Bagian lain yang asik adalah team building. Biasanya team building ini dalam bentuk outbound atau performance grup.
Nah performance grup ini nih yang ga karuan. Kami diminta melakukan comical play, dalam bentuk drama pendek atau nyanyian dengan tema tertentu. Biasanya waktu yang diberikan untuk tampil sangat minim. Demikian juga dengan waktu untuk mempersiapkan dan dana untuk tampil, sama minimnya.
Tapi disitulah seninya. Serunya. Bagaimana tiap kelompok yang isinya random dari masing-masing department bekerja sama mengorganisir semua.
Dari yang ogah-ogahan, pas waktunya tampil jadi total banget gak pakai malu-malu. Motivasinya apalagi kalau bukan hadiah yang berlimpah. Hadiah best performance, best group, punctuality dan lain-lain.
Dan acara ini akan meninggalkan kisah manis yang akan terus diceritakan tiap tahunnya. 😁
I missed those moments.

Nah pas suami mengutarakan niatnya tentang family gathering, yang ada dipikiran saya adalaj menjadikan acara ini memorable untuk semua.
Kalo bisa sih bertabur hadiah untuk karyawan. Terus ada games-gamesnya juga. Satu lagi, kalo bisa ada training dari motivator juga. Untuk recharged semangat bekerja. Yang pasti bukan m*rio t*guh. Ga sejalan kalo doi dengan prinsip kantor ini. Mungkin yoris sebastian, atau jagoan startup, atau orang-orang hebat dibidang kreatif.
Pak suami sih sudah mendengar ide dari saya, tinggal liat aja nanti bagaimana implementasinya 😁



- Posted using BlogPress from my iPhone

Minggu, 01 Maret 2015

The day I meet you, my baby

Kami menamai bayi kami AtaurRahman.

Sebuah nama di buku nama-nama bayi yang sejak awal sudah mencuri perhatian kami. Artinya Hadiah dari Tuhan.

Atar lahir di minggu ke 37 kehamilan saya dalam keadaan leher terlilit tali pusat. Kata dokter, paru-parunya sudah matang, sudah dapat dilahirkan. Plasentanta berada di atas, jadi masih bisa dilahirkan secara normal.

Rabu, 26 Oktober saya flek beberapa kali tapi tidak ada tanda-tanda mules. Untuk memastikan saya kontrol ke dokter Ningtyas di RS UIN syarif Hidayatullah. Belum ada tanda-tanda bukaan. Tapi kami diberi pengantar dari dokter untuk melahirkan sewaktu-waktu.

Hari itu Jumat 28 Oktober, saya mulai merasakan mulas-mulas teratur. Tanda kelahiran semakin dekat. Di Iphone yang saya pakai ada aplikasi timer untuk menghitung durasi dan frekuensi kontraksi. Awalnya sekitar 20 menit sekali, 12 menit sekali, 10 menit sekali, lama-lama 5 menit sekali. Saya bilang ke suami kita ke dokternya besok saja hari sabtu, walau rumah sakitnya dekat tapi kalo ternyata bukaannya masih sedikit nanti kita pasti disuruh kembali ke rumah.

Sabtu jam 8 pagi 29 Oktober saya langsung cek ke UGD. Ternyata pembukaan sudah 3. Alhamdulillah.

Saya pun di rujuk ke ruang bersalin.

Rasa mulasnya mulai semakin kencang, seperti sedang menstruasi parah. Masih bisa ditahan saya hanya mempraktekan pernafasan seperti yang diajarkan di kelas senam hamil.

Menjelang siang rasa mulasnya semakin luar biasa. di ruang bersalin saya ditemani suami, mama dan bapak. Ketika di cek bukaan sudah bertambah jadi 7.

Sewaktu bidan mengelurkan tangannya tiba-tiba Byuuuuuuurrrr.....

air tumpah dari bawah diiringin rasa lega.

"Ketuban pecah spontan!" kata bidan

Oh My God!

Dan parahnya bukaan malah mengecil jadi 6 dan perut makin melilit. Kali ini di tambah rasa seperti ada dorongan dari dalam pantat ke arah luar.

"Tarik nafas bu, kasih oksigen yang banyak buat bayinya...... jangan ngeden dulu!" kata bidannya. Dokter Ningtyas belum datang, jadi saya masih ditemani bidan-bidan.

Katanya kalau saya ngeden sebelum bukaan 10, jalan lahirnya bisa bengkak. Tapi rasa dorongan dari dalam makin tidak tertahan. Saya masih konstan mengatur nafas tapi terus-terusan mencengkram tangan suami dengan erat.

Kata mama wajah saya sudah sedemikian pucat.

Mungkin karena tau saya menahan sakit yang begitu hebat, suami saya berbisik "jangan ditahan yang..., kalo sakit ekspresiin aja"

Yang awalnya hanya tarik nafas teratur saya tiba-tiba teriak "haduuuh sakit"

Teriakan yang sama muncul terus teratur seiring dengan tiap dorongan dari dalam. Rasanya seperti ada pup besar yang mau keluar, tanpa mengedan pup itu terus menerus mendorong minta keluar.

"haduuuh sakiiiiiittttt"

.....

ketika dokter Ningtyas datang, di bukaan 8 si jabang bayi belum juga ada tanda-tanda turun. katanya masih jauh di atas. Ujung kepala sudah terlihat tapi masih terlalu jauh dari jangkauan.

Saya masih berbaring ditempat tidur bersalin, meringkuk kesakitan. Sebuah selang dipasang supaya kandung kemih saya tidak harus menampung air seni. Katanya kandung kemih yang penuh salah satu menghambat jalan bayi turun.

Air seni dan kotoran keluar seiring dengan dorongan dari dalam semakin kuat.

"jangan ngeden bu"

"Tarik nafas yang dalam bu, kasih oksigen buat bayinya"

Beberapa bidan terdengar memerintahkan instruksi.

Karena gak boleh ngeden tapi dorongan dari dalam membuat seolah saya ngeden otomatis, akhirnya saya sekuat tenaga menahan "si dia yang mendorong untuk keluar"

Tanpa terasa kaki saya tekuk sampai tumit menyentuh pantat. sakitnya luar biasa.

Jam 8 saya masuk UGD, jam 2 saya masih terbaring menahan sakit di ruang bersalin.

Suami saya tampak meninggalkan saya sejenak menuju dokter ningtyas. Ketika ia kembali ia berbisik "sayang, masih kuat?"

Spontan saya bilang"udah sesar aja"

suami saya kembali ke dokter ningtyas kemudian mengisi kertas-kertas dan terdengar bidan dan dokter mempersiapkan prosedur sesar.

saya pikir, dari keputusan sesar itu, operasi akan segera dilakukan... ternyata... saya masih harus menunggu dalam keadaan mules luar biasa.

Menunggu team dokternya lengkap. Dokter anastesinya sedang berada di RS Fatmawati. Team dokter yang lain entah dimana. Masih harus menunggu ruang disiapkan, obat disiapkan dan lainlain.

Rasanya lamaaaaaa banget.

saya cuma bisa teriak "ini saya gak bisa dikasih bius dulu??"

Dari ruang bersalin saya dibawa dengan kursi roda ke ruang operasi sambil menahan dorongan dari dalam yang semakin kuat. Saya tidak perduli terus berteriak tiap rasa sakit datang.

Ternyata saya dibawa di ruang transit dulu sebelum ke ruang operasi. dokternya belum datang. Haduuuuuuuh......

Jam 4 saya baru dibawa ke ruang operasi. Beberapa menit di tes alergi dan tekanan darah. Seseorang memasangkan infus di tangan kiri dan alat tensi di lengan kanan. Akhirnya rasa sakit hilang setelah saya disuntik di pinggul belakang. Obat bius.

Setelah itu semua terasa enteng. Saya tidak lagi bisa merasakan mulesnya, tapi semua suara di ruangan itu masih bisa saya dengar. Seorang dokter bertanya "ibu hobinya apa?"

Pertanyaan super gak penting itu saya anggap tidak terdengar. Usut punya usut ternyata yang bertanya itu dokter hypnobirthing, dengan maksud membuat saya rileks. Hah, mana saya sepat menjawab pertanyaan macam itu.

Tekanan dan goyangan di area perut masih bisa saya rasakan, hanya terasa seperti gerakan, tanpa ada rasa sakit.

Sayup-sayup terdengar "oiya, tersangkut"

Sepernyata si baby berusaha sekuat tenaga keluar tapi tidak berhasih karena terlilit tali pusat di lehernya.

Badan saya rasanya begitu enteng sampai sepertinya saya beberapa kali tertidur tapi tetap terjaga. Saya bolak-balik melirik ke arah jam dinding. Operasi yang begitu lama.

16.00 saya masuk ruang operasi.

16.45 bayi saya berhasil dikeluarkan, tanpa menangis. Beberapa menit kemudian ia dibawa ke saya setelah dibersihkan dan dibedong. ia diletakkan di payudara saya. Spontan ia menghisap payudara saya sebentar ketika kemudian dibawa pergi kembali karena tertidur di dada.

18.00 operasi selesai. Saya masih tidak bisa merasakan apapun. Bahkan ketika dipasangkan kateter, dipakaikan kain dan dipindahkan ke ruang transit kembali.

Sekitar 1 jam saya diruang transit. Suami, mama dan bapak boleh masuk bergantian.

Saya masih dalam keadaan fly dibawah pengaruh obat bius.

Tekanan darah saya terus dipantau dengan mesin otomatis yang menyala beberapa menit sekali.

Pertanyaan saya cuma 1 when will i see my baby?

Menjelang jam 2 petugas masuk dengan membawa tempat tidur beroda. Saya pun dipindahkan. Dengan pinggang kebawah masih mati rasa.




- Posted using BlogPress from my iPhone