Kamis, 16 April 2015

Belly dance

Hari ini mencoba latihan belly dance.
Yaampuuun baru 1/2 jam pertama keringetannya udah kaya diguyur.
Masih belom mahir mainin perut sih. Maklum baru percobaan pertama.
Ternyata tekniknya beda banget sama body language.
Karena kebiasaan BL, tahan perut buang nafas- jadi kebawa.
Kalo belly dance malah perut jangan ditahan. Jangan dikencengin.
Dilepas - tarik - lepas tarik. Digertarkan, kaya ngocok lemak di perut gitu.
Susahnyaaaa...
Musti latihan sendiri di rumah nih.

Asik karena gw memang doyan goyang. Tapi entah kenapa badan kaya kaku gak lepas gitu.

Minggu depan coba lagi.

Malah jadi lebih tertarik ini dari pada body language.

Senin, 13 April 2015

Ibu cepat saji

24/7
Waktu kerja ala-ala mekdi.
Dari melek mata sampai tidur lagi malam hari.

Badan, pikiran, emosi, semua tercurah untuk pekerjaan yang bayarannya begitu mahal ini.

Bayarannya pahala, bila mampu bekerja sesuai jobdesk dari Allah SWT.
Bayarannya rasa cinta dari buah hati, kalau bisa membuatnya kenyang, nyaman dan merasa dicintai.
Bayarannya ridho dari suami.

Ibu sebenernya gak butuh "me time".
Ibu gak butuh romantis-romantisan dari suami.
Gak butuh apa itu bunga, kado, perhiasan, apalah.

Tapi ibu butuh rasa dicintai. Dulu kami dinikahi karena cinta kan? Karena kami pernah cantik. Sebelum kami gendut, acak-acakan, lupa high-heels, tak pernah menyentuk eyeliner & lipstick.

Dimengerti.
Pekerjaan dikantor dan dirumah sama-sama capek walau berbeda porsinya. Mengertilah!

Dihargai, walau cuma kerja dirumah. Ketemu cucian lagi, kompor lagi, toilet kotor lagi. Tapi hargailah pilihannya untuk melayani. Walau bukan pelayan.

Diberikan kebebasan mengutarakan pikiran, mengeluh, mengomel, apapun itu cara kami mengutarakan pikiran.

Tidak direndahkan, tidak dibunuh karakternya. Dibiarkan berkembang.

Ibu yang tersakiti akan sulit bekerja maksimal.
Ibu yang sedih, akan sulit membuat anak dan suaminya gembira.

Ibu cepat saji. Jiwa raga kami persembahkan 24/7.
Multi tasking untuk semua pekerjan. Tidak pernah mudah.
Jangan pernah bilang kami lelet. Lambat.

Tentu saja ibu cepat saji juga pemaaf. Karena kami bekerja dengan cinta.
Kami sepertinya tak pernah punya hak untuk melarang suami jangan ini jangan itu. Apalagi keluar kalimat "jangan diulang sekali lagi".
Jadi jangan kasar dengan kami.
Apalagi mengancam.
Karena ditangan kami anak-anak kami didik. Ridho Allah untuk suami pun ada sedikit andil kami.



Kehadiran tanpa kehadiran

Kehadiran tanpa kehadiran
Ditengah waktu yang sempit, kejadiranpun hadir tanpa kehadiran.
Jiwa hadir tapi pikiran entah kemana.
Hadir tapi sibuk dengan gadget masing-masing.
Mata ke layar hp, kata-kata yang keluar tanpa tatap mata.
Hadir tapi tak sadarkan diri. Sibuk terlelap. Tidur.
Seolah kawan tak ada artinya.
Padahal perjumpaan begitu singkat.

Sabtu, 04 April 2015

Happy 5th wedding anniversary

5th yang lalu perjanjiannya kurang lebih begini: Kita saling jaga perasaan dan martabat kita masing2.
Sesimpel itu.
Tapi pelaksanaannya kompleks juga. Masalah juga adaaaa aja, kecil dan besar. Tidak menceritakan masalah rumah tangga ke orang tua (yang mungkin akan membuat mereka sedih, marah atau sakit hati), tidak menceritakan ke sahabat, orang deket-orang jauh, apalagi sosial media. Menjaga aurat & menjaga kelakuan. Terbuka, kalo ada apa-apa ngomong aja, dan membuat nyaman satu sama lain. Alhamdulillah sampai hari ini susah sedih ditanggung bersama. Biar orang tua & orang lain liatnya kita bahagia aja.
Makasih ya kekasih.
Selamat 5th-an 😝