Rabu, 14 Desember 2016

Suatu hari di salon

Kamis minggu lalu, setelah sekian lama tidak melakukan perawatan muka, saya pergi ke salon untuk facial. Sebelumnya saya tanya-tanya tempat facial yang bagus disekitar rumah, hasilnya diputuskan menyambangi salon khusus wanita yang treatmentnya lumayan lengkap.
Tujuannya cuma untuk membersihkan komedo. Di meja resepsionis ditawarkan macam-macam jenis treatment. Dari segi harga untuk kawasan luar jakarta termasuk mahal. Perbandingannya, kalau di tempat facial lain sekitar 50ribuan, disini 70-150rb. Tapi dibanding salon jakarta terbilang murah.

Sehari-hari penampilan saya memang casual banget. Hari itu saya ke salon menggunakan kaos polos lengan panjang, celana panjang jeans dan sandal gunung serta jilbab bergo.
Sepertinya terapis yang menangani saya sudah langsung judge me by my look, saya pikir.

Kelihatan banget dia underestimated, saya mungkin disamakan dengan ibu-ibu kampung nih.
Facialnya sakiiit banget. Dipencet-pencet pakai alat untuk mengangkat komedo. Pas saya bilang sakit malah makin diteken. Luar biasa ini salon....... ga rekomen banget.
Katanya, saya belom pernah lihat muka kotor banget gini.....
Halooow.... ya gak harus jadi kasar dong sama customer. Saya kan bayar.

Next treatment pedicur.
Waktu lagi treatment, terapis yang tadi ngobrol sama temennya pake bahasa salon yang sangat mudah ditebak apa omongannya. Ngomongin customer. Hadeeeeh.....

Lagi-lagi kasar si mbak. Sebelum bilasan terakhir, semua alat yang dipakai pedicure di lempar ke baskom yang akan dipakai untuk merendam kaki sayang. Luar binasa.....

Akhirnya selesai dan saya menuju kasir. Lalu balik cari terapis yang tadi untuk kasih tip. Subhanallah mukenye gak ada terima kasih nya, walaupun dia bilang makasih. Trus balik badan sambil ngomong sama temennya "lumayan buat sarapan".
Duh mbak, semoga segera mendapat hidayah ya.....



- Posted using BlogPress from my iPhone

Kok gak nambah?

Idealnya, punya anak itu 2 atau lebih.
Kalo belum punya pasti orang tanya kapan punya? Kalo sudah 1 pasti ditanya kapan nambah? Dan seterusnya.
Beberapa tahun ini saya kebawa omongan itu. Yakin banget akan punya anak lebih dari satu. Tiap ada yang nanya,saya jawab aja "doain aja ya". Padahal saya tau yang nanya mungkin cuma iseng nanya, cuma basa-basi. Belum tentu juga dia ngarepin saya nambah anak hehehhe....

Kalo lihat temen yang belakangan nikah punya anak 2 duluan rasanya gimana gitu. Terus kalo ada yang banding-bandingin sebel banget rasanya. Tahun ini terbersit niat untuk program hamil. Ya paling nggak nanya sama dokter apa ada masalah kok saya belum hamil lagi. Terus sempet cari-cari program juga, bayi tabung lah, inseminasi buatan lah. Waktu saya mengutarakan ini ke suami, eh doi bilang "kamu kaya gak yakin sama Allah aja. Kalo Allah bilang belom boleh nambah kamu mau program apa juga gak bakal nambah. Kalo waktunya dikasih, ya dikasih aja"
Sedih sih denger gitu. Suami kaya gak ngehargain usaha istri. Walaupun ada benernya juga. Tapi kan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali ia berusaha sendiri.

Kemarin saya tiba-tiba kaya berfikir dalam hati. Emangnya kenapa pingin punya anak lebih dari satu?
Supaya ramai rumahnya
Supaya nanti kalo sudah tua banyak keluarganya

Terus kaya ada suara dalam diri. Seiring dengan bertambah anak, tambah bahagia tapi tambah tantangan juga. Cita-cita saya adalah pingin jadi ibu yang dicintai Allah dan dicintai anaknya. Bukan ibu penggerutu, bukan ibu yang kebanyakan ngeluh. And I'm working on it.

Banyak anak memang banyak yg akan doain kita nantinya. Tapi ya gimana kita mendidiknya.

Saat ini saya mengalami tingkat kepasrahan yang saya sendiri sulit percaya. Kalo Allah SWT cuma menitipkan satu anak ke saya, Insyaallah saya ikhlas. Kalo Allah SWT mau kasih lagi, pasti Allah SWT akan mudahkan. Semoga satu atau berapapun anak yang akan Allah SWT titipkan pada saya, Allah SWT jadikan ia anak yang sholeh, melindunginya dari kejahatan dunia dan siksaan di akhirat, dan melindunginya dari fitnah dunia. Aamiin.


- Posted using BlogPress from my iPhone

Senin, 05 Desember 2016

KAMI BERSUJUD DIATAS AIR

Dicopy dari fb




Seharian itu kami sibuk mempersiapkan aksi 212. Sorenya sampai malam kami menyambut santri mafaza dr cabang yg lain, jg dr bandung.

Ba'da shalat subuh takbir bergema menggetarkan setiap sudut pesantren mafaza. Semua santriwati berbaris dlm shaf yg rapih. Langkahnya penuh keyakinan. Alhamdulillah kami mendapatkan 3 bus. Dua hasil sewa, dan satu lagi hadiah dr Daarut Tauhiid Bogor. Terima kasih atas bantuan sahabat FB yg dgn sumbangannya memuluskan semua santri ikut aksi bela qur'an.

Begitu masuk tol sentul Selatan, jalanan penuh dg Bis Bis besar yg mengangkut jama'ah Adzikra. Kami saling melempar senyum dan melambaikan tangan. Perasaan akrab langsung menyeruak, meski kami tak saling kenal dan duduk dalam bis terpisah.

Memasuki Jakarta, jalanan semakin penuh. Penumpangnya memakai baju serba putih dan ikat kepala merah putih. Kami tak henti2nya melambaikan tangan dan berbagi wajah ramah. Mobil mobil mewah bertuliskan LOGISTIK 212 ikut melaju pelan. Rasanya jalanan seperti dipenuhi keluarga besar.

Bis kami berhenti di tanah abang pd jam 9 pagi. Semua santri turun dan segera disergap warga sekitar, mereka menawarkan minuman dan aneka makanan. Kami menolak dg halus. Bhw kami baru saja sarapan di bis. Seorang ibu bersahaja menangis, ia ingin makanannya diterima para santri pejuang

Perjalanan kami terhenti di perempatan thamrin. Disana jalanan sdh penuh sesak dg pasukan putih dr berbagai penjuru. Kami segera menggelar sajadah dan duduk menyimak orasi tokoh2. Tanpa dikomando, jutaan manusia begitu tertib bersila, terutama saat K. H. Arifin Ilham memimpin do'a. Kami semua ikut terbang dlm setiap doa yg dipanjatkan. Saya mengaminkan dg penuh kesungguhan saat ust yg lemah lembut ini merintih: "ya Allooh..turunkanlah hujan sbg tanda do'a kami kau ijabah.."

Usai do'a, kami semua tetap patuh bersila disejadah kami, menyimak ceramah para ulama, ust HNW dan Habaib. Lalu kami semua tenggelam dlm surat al kahfi yg dilantunkan syeikh Ali Jaber.

Dada kami tiba2 bergemuruh dibakar orasi ust Bachtiar Nasir. Saat belau menyampaikan bhw.. Kita adlh kaum baru yg lemah lembut terhadap sesama muslim dan tegas kepada kafir!. Iya benar. Sepanjang jalan kami merasakan segala macam bentuk perhatian dan kasih sayang sesama muslim. Namun pd saat yg sama, kami merasa siap mengorbankan jiwa raga utk menunjukkan ketegasan kpd org2 kafir.

Tensi mereda saat A'Agym naik podium. Dgn gaya candanya yg khas, Aa berhasil membuat wajah kami semua kembali berseri meski matahari mulai panas. Kami banyak tertawa meski udara makin menyengat. Namun Aa Gym mengingatkan bhw kita jgn sekali kali terpedaya oleh jmlh yg banyak. Sebab kemenangan tdk akn didapatkan oleh jmlh yg banyak, melainkan oleh pertolongan Alloh.

Menjelang adzan saya mulai resah krn sulitnya mendapatkan tempat berwudlu, posisi saya terjebak ditengah jutaan manusia. Saya ijtihad bertayamum. Mengambil debu dr sajadah dan tas ransel. Tiba2 gerimis turun..bersamaan dg itu, terdengar seruan ust Bachtiar Nasir "Saudara2... Alloh telah menurunkan air dr langit utk mensucikanmu. Gunakanlah utk berwudlu".. Subhanalloh, alangkah indahnya pemandangan itu, jutaan kaum muslimin berwudlu dg air hujan yg mengguyur mereka. Lihatlah pemandangan itu.. 7,4 juta manusia menyelesaikan wudlu ditempat yg sama secara bersamaan dlm waktu 5 menit.

Dan bukankah td kami semua mengaminkan doa ust arifin yg meminta hujan sbg tanda di ijabahnya doa doa kami.

Sejurus kemudian kami semua, dr org no satu di Indonesia, pejabat elit, panglima tertinggi sampai rakyat jelata sdh duduk dgn tabah, menyimak khotbah habib riziq dibawah guyuran hujan yg penuh barokah. Tak ada satupun yg bergeming dr sajadahnya yg basah.

Selesai khutbah, berjuta juta manusia ini berdiri serentak dg rapih tanpa komando. Kami tetap bahagia dg hujan, kali ini dlm shalat. Saat qunut nazilah dipanjatkan, 7,4 juta manusia ini menyatu dlm kekhusyu'an.. Kami menangis dlm untaian do'a do'a. Merasa pedih atas dosa dosa diri. Merasa sesak dg kondisi negeri. Dan tangisan kami pecah saat nama saudara kami di rohingya disebut... Oh Alloh.. Alangkah tak bergunanya hidup ini jika tak bisa membebaskan saudara seiman dr cengkraman kekejian kaum kafir.

Lalu kami berlutut disajadah kami yg tenggelam 5 cm dibawah genangan hujan. Dan kami bersujud di atas air. Ah nikmat.. Nikmat sekali. Wahai Alloh.. Masukan kami kedalam golongan org-org yg mereguk telaga al kautsar...agar bisa berjumpa dg kekasih kami, Rasulullah

Saat bangkit dari sujud, air mengucur dr rambut2 kami yg tertunduk.. Dan kami semua bergumam..
Ya Alloh.. Ampunilah aku
Sayangilah aku
Tutupilah aib aibku
Angkatlah derajatku
Berilah aku rizki
Berilah aku petunjuk
Sehatkanlah aku
Maafkanlah aku

Ini adalah shalat jumat kami yg paling nikmat. Berdiri dibawah guyuran hujan. Duduk diatas sajadah yg tergenang, dan sujud diatas air. Usai shalat jum'at kami merasa kurang.. Maka hampir semua kembali berdiri shalat. Jama' takdim.

Kami pulang berdesakan. Namun tertib dan berjalan perlahan. Di sepanjang jalan orang2 kembali sibuk menawarkan minuman, makanan hingga permen. Sebagian menyodorkan kantong plastik, mempermudah kami membuang sampah.

Alangkah nikmatnya persaudaraan iman. Lebih2 saat di ikat perjuangan. Kini saya mengerti, kenapa para mujahid itu lbh hebat itsarnya..

Note :
Mhn izin bg siapa saja pemilik foto dibawah.


- Posted using BlogPress from my iPhone

Sabtu, 03 Desember 2016

Republika




- Posted using BlogPress from my iPhone

JIKA MONAS LAKSANA MEKKAH

💐 ..! 💐

Makin mendekat... getaran Iman & Islam ini semakin bergemuruh.
Makin menghitung hari 212... makin berkemas untuk menyambutnya dengan TAKBIR.
ALLAHU AKBAR..!!!

Gelombang Semangat ini sudah tak bisa dibendung lagi.
Arus jutaan manusia meluncur deras, menuju Ibukota negeri ini.
Mereka datang untuk memekikkan kata :
LAA ILAHA ILLA ALLAH - ALLAHU AHAD

Teringat Allah berfirman kepada Ibrahim AS :
"Yaa Ibrahim serulah semua manusia agar datang ke Baitullah"
Ibrahim AS menjawab : "...Yaa Allah bagaimana mungkin akux menyeru kepada semua manusia, padahal diriku amat lemah disisi Mu"

Allah pun berfirman: "...Aku yang akan memanggil mereka semua, bahkan kepada setiap bayi dalam kandungan ibunya. Mereka akan datang dari seluruh pelosok negeri, dgn berjalan kaki, berkuda, atau berkendaraan lainnya. Mendekat kepada Baitullah"

Sungguh... Panggilan Allah menuju Monas, untuk membela Ayat-ayat-Nya.
Laksana Panggilan ke Baitullah.
Bisikan-Nya terasa nyaring memenuhi dada Muslim Indonesia yang "Mukmin".
Berbondong-bondong Mukminin bergerak kearah tujuan yang sama "BELA AGAMA ALLAH...."

Musuh mengira kami bergerak karena di BAYAR dengan tetesan dunia yang kecil. (500 ribu....???)
TIDAK... Demi Allah... Mimpi kami lebih besar dari itu semua.

Wahai kaum muslimin yang mukminin....
AKSI SUPER DAMAI 212.... mungkin
Akan jadi SHALAT JUM'AT terakhirmu.
Akan jadi DZIKIR TERSYAHDU terakhirmu.
Akan jadi SAJADAH TERPANJANG terakhirmu.
Akan jadikan MONAS "Masjid Jalan Raya Terbesar..." dinegerimu.

Inilah Silaturahim Akbar dalam Sejarah Umat yang belum tentu terulang lagi, dalam kurun panjang sejarah hidupmu.

TOREHKAN SEJARAH MU.... Sekarang sebagai PEMBELA atau PENONTON...?
ALLAH AKBAR...!!!
#Aksidamai212#💐💐💐💐💐💐💐💐💐


- Posted using BlogPress from my iPhone
*copas dr grup tetangga, nice to read utk pandangan dari sisi mereka supaya kita lebih empati aja, InsyaAllah aman utk dibaca semua, tdk ada yg menyinggung pihak mana pun*

,,,,,,,*Adalah saya akan tak ikut lagi aksi 212???*

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..

Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool... Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak... ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu kalian jangan usil, jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak!, Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal..Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga,, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak...tiap kotak sumbangan aku isi..

Saya masih heran, apa sih salah seorang ahok? Dia sdh bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yang sudah dia buat bagi jakarta... Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada,, saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi... paling juga mau selfie2..

Sampai satu saat....

,sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal,, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an.... Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif.... Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis,...

Papasan berlalu, aku setel radio lain...ada berita,, rombongan peserta aksi jalan kaki dari ciamis dan kota2 lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mrk lalui... Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu... Aku tertegun...

Lama aku diam ,, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yg sesuai dengan pemikiranku, apa yg membuat mereka rela melakukan itu semua?? Apa kira2?.. aku makin sibuk berfikir.... Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka2 ikhlas itu.... Apa mereka ada tujuan2 politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu.... Apakah orang2 dgn tujuan politik yang gerakkan mereka itu?.. aku hitung2, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi,, berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu... Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi krn nilainya sangatlah besar....

Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga... Terlihat di pinggir2 jalan anak2 sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue2 warung ke mereka, sepertinya itu dr uang jajan mereka yg tak seberapa.... Aku terdiam makin dalam... Ya Allah....kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini??? Kenapa hanya hal2jelek yang mau aku lihat tentang agamaku... Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku??

Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar...aku lihat sendal2 jepit lusuh banyak sekali berbaris...aku ambil wudhu...

Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer,, muka mereka lelah sekali, mereka duduk,, ada yg minum, ada yg rebahan, dan lebih banyak yg lagi baca Quran... Hmmm

Aku sholat sendiri,, tak lama punggungku dicolek dr belakang, tanda minta aku jd imam, aku cium aroma tubuh2 dan baju basah dari belakang.... Aku takbir sujud,, ada lagi yang mencolek,. Nahh....Kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa... hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam... Aku bangkit duduk,, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku.... Ya Allah... Aku tak pantas jadi imam mereka,. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka.... Bagiku agama hanya hal2 manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya , in style ..bla bla bla,... Walau ada hinaan ke agamaku aku harus ttp elegan, berfikiran terbuka... Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka?? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku??....

Hanya 3 rakaat aku imami mereka,, hatiku luluh ya Allah.... mataku merah nahan haru... Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu2 aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali... Ini bisa jadi dia anakku juga,. Apa yg telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini?? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh... dia demam sedikit aku panik... Aku nangis dalam hati.... di baju putihnya ada tulisan nama sekolah,. smp ciamis... Ratusan kilo dari sini.... kakinnya bengkak karena berjalan sejak dari rumah, dia cerita bapaknya tak bs ikut krn sakit dan hanya hidup dr membecak, bapaknya mau bawa becak ke jakarta bantu nanti kalau ada yg capek, tapi dia larang... Aku dipermalukan berulang2 di masjid ini... Aku sudah tak kuat ya Allah... Mereka bangkit, ambil tas2 dan kresek putih dr sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid,, rasa2nya melihat punggung2 putih itu hipang dr pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yg menuju syurga... Kali ini aku yg norak,, aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat,, air mataku keluar lagi.... kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..

Sudah jam 5an,, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini...miting dgn klien sptnya batal... aku mikir lagi soal ke islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yg telah ciptakan aku, yg memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini.... dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini??? Ada dimana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?...

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi,. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini... Ada satu kata,. Sederhana sekali tanpa bumbu2... Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada...

Aku mampir di minimarket,, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap... Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional.... Ini kebangganku yg pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali... Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yang lurus, yg lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati....

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara2ku yang sebenarnya,. Orang2 yang sangat ikhlas membela Mu... Besok, tak ada jarak mereka denganMu ya Allah... Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yg basah kuyup hari ini....tak ada penggargaan dr manusia yg kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku... Mohon Kau terima dengan sangat... Bismilahirahmanirahiim....

(1 Des 2016 , Ditjeriteratakan oleh Joni A Koto, Arsitek, Urban planner.. alumni ITB 93)


- Posted using BlogPress from my iPhone

Location:Sesuatu yang menggetarkan hati

Ippho Santosa - ipphoright:
Sesuai labelnya, Aksi 212 beneran damai alias super damai. Sejatinya Aksi 411 juga sangat damai. Dan ini tidak mudah, apalagi kalau ditilik dari jumlah massa yang masing-masing aksi mencapai lebih 2 juta orang (cek Google Earth). Ramai tapi relatif damai.

Ya, ini aksi bermartabat. Boleh diadu dengan unjuk rasa manapun sedunia sepanjang sejarah, termasuk negara-negara maju yang ngakunya lebih demokratis. Adakah seramai dan sedamai ini? Kapolri saja mengakui, tak satu pun pohon tumbang.

Selama ini unjuk rasa identik dengan kekerasan dan kerusuhan. Nah, Aksi 212 dan Aksi 411 mengubah mindset pesertanya. Ramai tapi relatif damai. Tertib. Boleh dibilang, Revolusi Mental (Revolusi Mindset) terjadi di sini.

Lebih jauh, sebenarnya nilai-nilai Nawacita pun seperti aman, demokratis, melibatkan daerah, menghargai kebhinnekaan dan restorasi sosial, diam-diam sudah tertuang di Aksi 212 ini.

Bayangkan 2 juta lebih massa berkumpul di Monas dan sekitarnya. Begitu massa bubaran, eh sampah juga ikut 'bubaran' alias bersih. Teramat banyak orang yang berlomba-lomba mungutin sampah. Ini sebuah restorasi sosial, bukankah selama ini masyarakat kita dikenal 'masa bodoh dengan sampah'? Belum lagi yang bagi-bagi makanan serasa di Nabawi.

Heroiknya, Aksi 212 lebih membludak daripada Aksi 411. Padahal sebelumnya sudah ada fatwa haram dari seorang tokoh, fatwa bid'ah dari seorang ulama, stigma makar dari polisi, tebar selebaran dari helikopter, boikot transportasi dari aparat, eh tetap saja lebih membludak. Meluber sampai Istiqlal, Thamrin, serta Tugu Tani.

Dan keajaiban kecil pun terjadi. Ketika panitia mulai kuatir peserta akan dehidrasi, keletihan, dan kekurangan air wudhu, eh tiba-tiba ada kejutan: hujan turun di menit-menit menjelang Jumatan. Ya Allah, Engkau memang The Best Planner!

"Rasain kehujanan!" tukas si hater. Hehe, dia tidak tahu bahwa insya Allah: Jumat + Hujan + Jamaah = Makbul.

Meski hujan, massa tak bergeming. Saya yakin akan beda ceritanya kalau kampanye politik atau konser musik. Dihujani begitu, pasti massa akan terbirit-birit.

Lihat pula Surah Anfal 11, hujan seperti itu diturunkan untuk menyegarkan jasad dan meneguhkan kedudukan. Bukankah hujan sedemikian juga pernah diturunkan ketika Perang Badar?

Saat Isra Miraj, Nabi Muhammad bersua dengan malaikat yang sangat ahli soal hujan (lihat Al-Mustadrak Syeikh An-Nuri, jilid 5), bahkan mampu menghitung jumlah tetes air hujan yang tercurah sejak manusia pertama sampai manusia terakhir!

Namun tahukah Anda apa kelemahan malaikat ini? Ternyata, ia tidak mampu menghitung jumlah pahala yang tercurah saat umat Nabi Muhammad berkumpul di suatu tempat dan menyebut-nyebut nama Nabi Muhammad! Masya Allah, bukankah ini juga terjadi di Aksi 212?

Beberapa ustadz pun memaparkan:
- Aksi 411 bagai Sa'i, berjalan dan berlari-lari kecil.
- Aksi 212 bagai Wukuf, duduk diam tak banyak bergerak.
- Boleh dibilang, kedua aksi ini mirip manasik haji terbesar (sekaligus sholat jumat terbesar sepanjang sejarah NKRI). Toh lengkap, ada zikir dan shalawat, ada pembimbing lapangan juga bagai muthawif. Plus sedikit desak-desakan karena ramainya massa, hehe.
- Yang nggak ada cuma Melempar Jumrah. Wah, bahaya nih kalau sampai ada lempar-lemparan dalam Aksi 212. Hehe.

"Ah, hanya orang-orang tolol yang hadir di situ," tukas si hater. Oya? Bukankah presiden, menteri, kapolri, dan panglima turut hadir, selain kyai-kyai dan habib-habib? Hehe, bodohkah mereka? Mohon maaf, saya pun bisa menunjukkan doktor-doktor (S3) dan miliarder-miliarder yang juga hadir, yang insya Allah jauh lebih cerdas dan jauh lebih kaya daripada dirimu wahai hater.

Manakala umat tidak memegang media dan kekuasaan, yah mau gimana lagi. Terpaksalah Aksi 212 dan 411 digulirkan. Namun, bagaimanapun juga, kita harus menjauhkan diri dari sikap ujub dan riya. Kembalilah fokus pada tujuan utama. Semoga Allah memudahkan. Aamiin.

Kalau Anda muslim, baiknya Anda membuat tulisan seperti ini. Agar dunia tahu betapa heroiknya aksi ini. Namun sekiranya belum bisa menulis artikel, silakan share tulisan ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa.


- Posted using BlogPress from my iPhone

Location:212 by ipphoright

Kamis, 22 September 2016

Tentang tes fingerprint

Jadi orangtua baru itu memang harus terus belajar ya. Kalo mentok cari tau, baca literatur, tanya orang yang lebih ahli. Kadang sharing dan denger pendapat orang juga, walau yang terakhir ini saya filterin banget. Kadang orang tau-tauan aja tapi ngomongnya kaya yang serba tau. Jadi harus cek dan ricek lagi. Soal kesehatan anak saya udah gak mau gambling, kalo ada sakit yang belom pernah dilalui mending langsung ke dokter langganan attar. Daripada cari opini sana-sini... Eh salah ngobatin. Pengalaman buruk banget deh, gak lagi-lagi.
Nah kalo soal psikologis, -dalam hal ini kecenderungan otak yang dominan, minat dan bakat- lain lagi. Tahun lalu waktu attar di playgrup sekolahnya mengadakan tes sidikjari. Awalnya males, ya karena pernah baca di forum ada yang bilang gak ngaruh deh ikut gituan. Eh tapi kok setelah denger presentasinya jadi tertarik coba. Eh ndelalah (apa nih bahasa Indonesianya 😅) hasilnya malah jadi lumayan berguna.
Jadi tau deh tuh kenapa attar cenderung lebih nyaman di kelompok intimate, kenapa gak suka hingar-bingar, sampe kenapa gak mau potong rambut di tukang cukur 😊.
Waktu itu yang dites rata-rata anaknya aja. Tapi saya inisiatif minta dites. Eh ternyata ya memang berhubungan. Kan namanya parenting, parent nya juga harus ketahuan dong apa-kenapa-nya. Setelah hasil saya dan attar keluar, abahnya minta dites juga on the spot. Dan hasilnya "jeng...jeng...jeng" banget deh. Ketawa ketiwi dan ber-oooo-pantesan melulu deh saya dan abahnya. Bagaimana fungsi otak yang dominan, pengaruh keluarga dan lingkungan membentuk kami.
Sekarang jadi rasanya lebih rileks dan gak takut salah mencoba. Alhamdulillah makin kesini walau attar wataknya keras perpaduan duo parent-nya, tapi jadi negotiable.
Ditambah lagi abang sepupu attar juga ternyata sama karakternya, bisa jadi bahan pembelajaran buat saya.
Yuks ayahbunda kita belajar terus 😊



- Posted using BlogPress from my iPhone

Jumat, 01 Juli 2016

Terlalu berharap

Maybe its not them, maybe its me.
Dengan berbuat baik, gw berharap semua orang berbuat yang sama ke gw.
Kenyataan gak gitu sih.
Terlalu berharap. 😁


- Posted using BlogPress from my iPhone

Minggu, 12 Juni 2016

Orang-orang yang merugi

Mungkin ini bukan pertama kali, dengar tausiah tentang orang yang gila pujian. Gila pujian dunia. Bergaya bagus, dengan pakaian, dandanan, kendaraan, bersikap mulia, shalih, demi mencari pujian dunia.
Kalau dalam kehidupan sekarang, contohnya orang yang gila publisitas dan "like" di social media.
Mengajari anak belajar, mengantar anak sekolah, tapi "cekrek" foto dulu, lalu upload di socia media. Demi cap ortu teladan, ibu cerdas, shalihah.
Jleb yes?

Dicontohkan ibu bekerja yang terkenal seantero bisnisnya. Orang yang cuma bertemu sejenak-sejenak begitu mengaguminya. Dirumah, 2 anaknya diasuh asisten rumah tangga. Ketika art-nya sakit dan akhirnya meninggal anaknya jadi murung. Ketika ditemukan dalam diary anaknya, ternyata ART-nya begitu berkesan buat anak-anaknya begitu dekat sehari-hari. Sedangkan ia, nyaris tak meninggalkan kesan dimata anak-anaknya

Dari kisah ini, saya kembali melihat kedalam diri saya. Audzubillah. Jangan sampai saya menjadi ibu, istri dan anak yang tidak berkesan untuk orang-orang tersayang saya.

Sebagai ibu muda yang merasa memiliki banyak kemampuan, kadang saya merasa perlu mengaktualisasi diri. Perlu pengakuan dari orang lain, dari lingkungan.
Jadi saya memperbaiki diri saya, ikut komunitas, aktivitas ini itu.
Senang kalau ada yang memuji cantik, kurusan, pinter masak, aktif, update, sholehah, cerdas dan lain-lain.
Pujian dunia.
Tapi apa iya saya sudah menjalankan peran saya yang utama dengan baik?
Melayani suami, mendidik anak dan menyayangi keluarga saya?
Memang harus selalu diingatkan untuk selalu "on-track". Berkorban waktu dan tenaga untuk orang-orang tercinta. Bukan untuk pujian dari dunia yang semu.

Dicontohkan dalam tausiah Aa Gym sore tadi, orang yang merugi diantaranya yang bersikap shaleh ketika tau orang lain akan melihat. Mengupate status tentang ibadah yang dilakukan. Pamer ini itu demi "like".
Audzubillahiminzaliq ya.

Walaupun dalam hal ini segala sesuatu tergantung niatnya.
Kadang saya bilang sesuatu tanpa ada niat pamer tapi orang lain anggapnya itu pamer.

Bismillah, semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dimata Allah SWT, bisa istiqomah, bisa bermanfaat untuk orang-orang terkasih.


- Posted using BlogPress from my iPhone

Sabtu, 16 Januari 2016

Sarinah

Kamis lalu terjadi insiden penembakan dan pelemparan granat di sekitaran sarinah thamrin. Menurut berita yang beredar, ini ulah teroris. Entah benar atau setingan lagi.
Gak tau ya, makin banyak tau cerita skenario dan konspirasi jadi ambigu antara yang bener atau cuma settingan.
Yah semoga yang menjadi korban, meninggal dunia - semoga beliau diampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah. Untuk korban yang luka, semoga segera sembuh dan pulih traumatiknya.

Eniwei.... Karena kedekatan psikologis dengan lokasi kejadian, di sarinah thamrin. Kemarin itu rasanya kaget-kaget sebel gitu pas nonton di tv.
Sarinah itu dulu pernah jadi tempat main waktu sd.
Waktu masih jadi anak jakarta. Sekolah dijalan sabang, rumah di merdeka barat. Tiap pulang sekolah pasti mampir sarinah dulu. Main-main keatas. Liat-liat stationary. Mainan eskalator. Baru deh pulang.
Jadi rasanya ada kedekatan dengan lokasi itu.
Plus jaman ngantor di sudirman, begaulnya juga di seputaran sudirman-thamrin.
Jadi sampai gede tetep keep up sama perkembangan daerah situ.

Karena kedekatan itu, jadi kalo kesana sendiri rasanya pede-pede aja. Aman-aman aja feelnya.
Gw yakin puluhan temen sd yang sekarang sudah mencar-mencar tinggalnya, gak di daerah situ lagi juga pasti merasakan hal yang sama.