Rabu, 19 April 2017

Mulut dikunci, tangan bersaksi






Beberapa waktu yang lalu saya dapet oleh-oleh tasbih. Kebetulan udah lama gak tasbihan. Udah lama gak dzikir juga sebenernya.
Mungkin Allah ingetin saya melalui temen yang kasih tasbih ini.
Belum sempet dipakai itu tasbih, saya baca-baca di buku saku doa & dzikir pagi petang yang dikasih temen yang lain (Seneng ya punya temen baik-baik, moga amalan baik mengalir ke temen-temen yang mengajak kebaikan) bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan dzikir dengan tasbih. Beliau pakai jari-jari saja. Insyaallah pada hari kiamat nanti saat mulut dikunci, jari-jari yang digunakan berdzikir akan bersaksi digunakan apa semasa hidup. Serem ya... yang didunia pinter cerita, diakhirat dibungkam. Semoga kita termasuk orang-orang beramal shaleh, yang dijauhkan dari siksa api neraka. 😭


- Posted using BlogPress from my iPhone

Sabtu, 15 April 2017

Kamu percaya ga sama siksa kubur?

Kamu percaya ga sama siksa kubur?
Kamu yang muslim pasti percaya.
Tapi apa iya kamu benar-benar meyakini?
Saya tau dari dulu, tapi saya baru sekarang-sekarang ini meyakininya. 😥

Kalo dari dulu saya yakin, mungkin jaman sekolah saya gak akan ikut jadi senior tukang plonco. Mungkin saya gak akan menghabiskan masa jadi karyawan saya dengan hanya mikirin baju, nongkrong dan kuliner.
Mungkin saya gak akan mau kehilangan waktu sholat satupun.

Saat ini sedih luar biasa ketika harus kehilangan waktu sholat karena mengalah pada keadaan. Ke mol, gak nyempetin sholat. Padahal mushola ada, mukena ada. Kondangan gak nyempetin sholat. Padahal dimana-mana ada mesjid. Travelling ga nyempetin sholat. Padahal yang ngasih kita kesempatan travelling itu ya yang menurunkan perintah sholat.

Kenapa ngomongin siksa kubur?
Karena amal yang pertama kali dihisab itu ya sholat. Kalo sholatnya gak baik maka semua nya gak akan baik.
Semua orang kecuali mati syahid akan disiksa kubur sebelum ditentukan akan masuk surga atau neraka pada hari kebangkitan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang diselamatkan dari siksa kubur & api neraka 🙏😥😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


- Posted using BlogPress from my iPhone

Senin, 27 Februari 2017

Belajar lagi

Umur segini kayanya saya lebih mudah belajar lewat mendengarkan daripada membaca. Jadi tempo hari ada kawan lama yang bilang "mbak coba belajar sirah nabawiyah", langsung deh pesen bukunya dan gak lama setelah bukunya dateng langsung baca. Astagfirullah, setelah lama gak biasa baca, susah juga nempelnya. Harus pakai bantuan notes untuk mengingat point2. Mana bacanya juga curi-curi waktu pas lagi bebas tugas.
Terus iseng-iseng cek yutup, ternyata ada kajian yang ngebahas sirah nabawiyah sampe 20-an lebih episode. Enak banget nyimaknya, lebih cepet nangkepnya. Walaupun jadi kebawa suasana denger ceritanya.
Ngebayangin kalo Rasulullah ada saat ini kaya apa sedihnya beliau liat umatnya yg makin jauh 😭

Hidayah itu memang harus dicari ya, bukan ditunggu. Kalo cuma nunggu.. kapan datengnya. Iya kalo masih ada umur panjang.

Kesadaran buat belajar terus ini gara-gara video singkat yang bilang "kita punya 168jam per pekan, masa 2jam aja gak punya waktu untuk belajar?" 😣

Jadi saya paksain ikut kelas online Parenting Nabawiyah, belajar via yutup sirah nabawiyah & belajar agama lagi dari buku. Semoga dalam waktu dekat dimudahkan untuk belajar di majelis ilmu. 🙏



- Posted using BlogPress from my iPhone

Senin, 13 Februari 2017

Melihat kembali niat

Sering kali kita berbuat baik pada orang lain, apakah itu menolongnya saat dalam kesulitan, atau mengikut sertakannya dalam kebahagiaan kita, memikirkan atau sekedar mendoakan yang terbaik untuk orang lain tersebut. Saat itu kita lakukan dengan ikhlas. Dengan senang hati karena ada kedekatan emosional. Misalnya pada keluarga, tetangga, teman dekat atau teman lama.

Namun ketika suatu hari orang tersebut tidak melakukan hal yang sama menurut kita, kita akan cenderung mengingat kembali kebaikan kita dulu.

Misalnya dulu waktu ia sakit kita rawat, kita bantu kadang dengan mengorbankan waktu dan tenaga kita, eh pada saat musibah terjadi pada kita, orang terdebut tidak melakukan hal yang sama.

Atau pada saat kita punya rejeki atau ada acara bersenang-senang, kita ajak mereka ikut serta. Eh pada saat mereka ada rejeki atau ada acara, mereka lupa pada kita.

Sebenernya, yang salah adalah yang menengok kembali kebaikan. Ketika kita merasa melakukan kebaikan, dan ikhlas ya sudah ikhlaskan. Jangan ketika kita kecewa kita ungkit lagi. Sudah kecewa, perbuatan kita terdahulu mungkin gak akan jadi pahala.

Memang manusia tempatnya lupa.

Sering sekali saya lihat di sosial media temen-temen menulis status... "cukup tau aja, dulu susah gw tolong, sekarang seneng boro-boro inget" dan status semacam itu.

Saya sendiri pun dulu sering banget merasa seperti itu. Dan gak pernah jadi pelajaran walau terjadi berulang-ulang.

Saya dibesarkan dengan contoh dari orangtua saat ada temen kita yang kesusahan kita bantu. Saat kita ada acara, jangan lupakan temen-temen. Makanya saya suka mengajak orang lain kalo ada acara yang saya buat. Tapi terus terjadi dari jaman saya masih kerja kantoran. Ramah-ramah sama temen kerja, berbagi, memberi. Tapi saat mereka punya kesenangan, saya terlupakan.
Terjadi juga di lingkungan rumah, bertetangga. Saya memang bukan tipe orang yang suka "nongkong" lama-lama ngobrol. Karena biasanya ujungnya ngomongin orang. Ghibah. Yang dalam Islam dosanya seperti memakan bangkai sodara sendiri. Dan siksaan di akhirat begitu pedih. Audzubillahiminzaliq. Semoga kita semua terhindar dari api neraka.
Mungkin karena kebiasaan jarang nongkrong itu jadi saya cenderung tidak diingat. Atau mungkin saya dianggap gak asik 😅
My husband simply said: then youre "not invited" udah gitu aja.
Saya mengobati diri dengan berfikir, mungkin Allah ingin menyelamatkan saya dari sesuatu yang kurang baik.
😘😘




- Posted using BlogPress from my iPhone

Senin, 02 Januari 2017

*MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT*


Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RA.

Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan
sahabat2 yg lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.
Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tsb termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jemaah yg hadir apakah ada yg melihat Sya’ban RA.

Namun tak seorangpun jamaah yg melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yg ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yg mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab.
Nabi bertanya lagi apa ada yg mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dg Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yg dimaksud.
Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira2 3 jam perjalanan).

Sampai di depan rumah tersebut Nabi mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tsb.

_“Benarkah ini rumah Sya’ban?”_Nabi bertanya.

_“Ya benar, saya istrinya”_ jawab wanita tsb.

_“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yg tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?”_

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
_“Beliau telah meninggal tadi pagi..."_

InnaliLahi wainna ilaihirojiun… Maa sya Allah, satu2nya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul
“ Ya Rasul ada sesuatu yg jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dg masing2 teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya."

_“Apa saja kalimat yg diucapkannya?” tanya Rasul._

Di masing2 teriakannya dia berucap kalimat:

_“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”_

_“ Aduuuh kenapa tidak yg baru……. “_

_“ Aduuuh kenapa tidak semua……”_

Nabi pun melantukan ayat yg terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 :
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban dlm keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah.
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.
Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yg sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yg lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat
berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yg dekat.
Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yg diperolehnya dari langkah2 nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya.

Saat melihat itu dia berucap:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban , mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yg didapatkan lebih banyak dan sorga yg didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban sengaja memakai pakaian yg bagus (baru) di dalam dan yg jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yg kena hanyalah baju yg luar. Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dg baju yg lebih bagus.
Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yg terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan.
Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yg paling luar dan dipakaikan kepada orang tsb dan memapahnya utk bersama2 ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari
mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban pun kemudian melihat indahnya sorga yg sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tsb.
Kemudian dia berteriak lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru...“
Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.
Jika dg baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yg begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yg lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yg baru.

Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dg roti yg dimakan dg cara mencelupkan dulu ke segelas susu.
Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yg meminta diberi sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tsb. Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama2 roti itu yg sebelumnya dicelupkan susu, dg porsi yg sama.
Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dg surga yg indah.
Demi melihat itu diapun berteriak
lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”
Sya’ban kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yg lebih indah.

Masyaallah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yg meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan.

Sering sekali kita mendengar ungkapan hadits berikut:

_“Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam.”_

_“Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam.”_

_“Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya.”_

_Namun lihatlah... masjid tetap saja lengang._
_Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah._

Mengapa demikian?
Karena apa yg dijanjikan Allah itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.

Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah tidak pernah meleset.
Allah akan membuka hijab itu pada saatnya.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan.

Sya’ban RA telah menginspirasi kita
bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah tsb.

Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal.
Namun penyesalannya bukanlah karena tdk menjalankan perintah Allah SWT.
Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan dgn optimal.

Semoga kita selalu bisa mengoptimalkan kebaikan² disetiap kesempatan.
Aamiin.
Semoga Bermanfaat


- Posted using BlogPress from my iPhone